Keringat Ibu Wati bercucuran. Ia tengah membersihkan rumah. Maklum ART sedang pulang kampung. Di ruang tamu ia melihat Pak Bono, suaminya, sedang asyik membaca koran. “Astaga!” serunya, “Kamu jangan berpangku tangan saja, dong. Bantu-bantu sedikit ‘kan bisa!” Nada suaranya meninggi. Ibu Wati merasa suaminya tidak peduli.
Ungkapan berpangku tangan dalam bahasa Indonesia berarti tidak melakukan apa-apa. Pemazmur merasakan pengalaman seperti Ibu Wati. Pemazmur tengah bergumul karena ada orang-orang yang membenci dirinya. Lebih dari itu, orang-orang itu bermufakat untuk menjatuhkannya. Di tengah keadaan itu pemazmur memohon kepada TUHAN agar menolong dan melindungi dirinya. Namun, alih-alih merasakan pertolongan TUHAN, pemazmur justru merasa TUHAN berpangku tangan. TUHAN sepertinya diam saja.
Sahabat Senior, di tengah pergumulan hidup kadang kita merasa Tuhan berpangku tangan. Namun benarkah perasaan itu? Tentu saja tidak. Tuhan tidak pernah berpangku tangan. Tuhan selalu hadir memberikan pertolongan. Namun, perlu diingat, pertolongan Tuhan tidak selalu sesuai dengan permintaan kita. Tuhan pasti memberi pertolongan, tetapi menurut kehendak-Nya. Sahabat Senior pasti pernah mengalaminya. Jadi, mohonlah pertolongan Tuhan karena Tuhan tidak pernah berpangku tangan!
DOA:
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak pernah berpangku tangan. Kami percaya Engkau selalu hadir dan menolong kami. Amin.
