“Pengakuan iman” dalam bahasa Latin disebut credo, yang berarti “aku percaya”. Dalam komentarnya di situs dublin.anglican.org., pendeta Darren McCallig menjelaskan bahwa kata credo juga dipahami oleh sebagian ahli sebagai gabungan dari dua kata Latin, yaitu cor yang berarti “jantung” (yang dalam konteks perasaan dapat dimaknai sebagai “hati”) dan do yang berarti “memberi”. Dengan demikian, percaya berarti “memberikan hati”. Sementara itu, menurut kamus Merriam-Webster, kata cor juga menjadi akar dari kata courage dalam bahasa Inggris, yang berarti “keberanian” atau “keteguhan hati”. Hal ini menunjukkan bahwa “beriman” dan “berani” memiliki akar kata yang sama dalam bahasa Latin. Beriman memang membutuhkan keberanian.
Teens, Abram yang dikenal sebagai bapa orang beriman ternyata pernah merasa ragu karena ia merasa usianya sudah tidak memungkinkan untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, ia memilih Eliezer, hambanya yang orang Damsyik itu, untuk menjadi ahli warisnya. Abram takut janji Tuhan semakin pudar, lalu mencari rasa aman dengan kepastian yang ia buat. Namun, Allah tidak pernah melupakan janji-Nya. Saat Abram merasa khawatir, Allah berkata bahwa yang akan menjadi ahli waris Abram adalah anak kandungnya. Allah kemudian menjanjikan keturunan Abram akan sangat banyak seperti bintang di langit. Tindakan Allah ini memulihkan iman Abram yang sempat pudar. Abram berani untuk percaya kepada Allah dan janji-Nya.
Hidup manusia memang penuh dengan risiko dan ketidakpastian, yang kadang membuat kita takut. Namun, Allah menjanjikan dan merancangkan kebaikan bagi umat-Nya. Melalui kisah Abram, kita menyadari bahwa segala sesuatu memang tidak pasti dan bisa berubah. Namun, janji Allah akan kebaikan itu pasti. Karena itu berimanlah kepada-Nya dengan berani.
