Seorang pelukis muda mengikuti lomba nasional. Karyanya penuh makna spiritual dan berhasil mencuri perhatian. Namun, karena gaya lukisannya mirip dengan salah satu seniman terkenal, ia dituduh menjiplak. Banyak orang menyerangnya melalui media sosial. Meski demikian, ia tidak membalas dengan emosi. Ia tetap berkarya dan terus menunjukkan proses kreatifnya. Sebuah galeri besar mengundangnya untuk menggelar pameran tunggal setelah melihat konsistensi dan keaslian karyanya. Tuduhan palsu itu akhirnya runtuh karena karakternya lebih kuat daripada rumor yang beredar.
Ketika Stefanus berbicara dengan hikmat yang berasal dari Roh Kudus, orang-orang tidak mampu menandingi argumennya. Alih-alih mencari kebenaran, mereka memilih cara yang curang, yaitu memutarbalikkan fakta dan menyuap saksi-saksi palsu. Fitnah terhadap Stefanus merupakan contoh klasik serangan terhadap integritas seseorang karena keberaniannya menyuarakan kebenaran. Ia tidak sedang melakukan kejahatan, melainkan menghadirkan terang yang mengganggu kegelapan dalam sistem agama yang korup. Musa, Taurat, dan Bait Allah, merupakan simbol utama identitas religius Yahudi. Menuduh seseorang menghina ketiganya sama artinya dengan menuduhnya menghujat akar iman Yahudi. Padahal, Stefanus tidak menghina, melainkan menunjukkan bahwa penggenapan janji Allah hadir dalam Yesus Kristus, dan bahwa sistem lama sedang digenapi.
Youth, kesetiaan kepada Allah tidak selalu tampak sebagai loyalitas terhadap tradisi manusia dan sering kali disalahpahami. Demikian pula dalam konteks pelayanan, pekerjaan, maupun kehidupan pribadi, fitnah dapat muncul, terutama ketika kita berdiri teguh untuk sesuatu yang benar.
- Bagaimana cara Stefanus bertahan dalam tuduhan palsu?
- Bagaimana caramu menanggapi fitnah?
Pokok Doa: Tetap teguh berpegang pada kebenaran meskipun difitnah.
