Nelson Mandela adalah pejuang antidiskriminasi rasial yang menentang politik apartheid (politik pembedaan warna kulit) di Afrika Selatan. Ia pernah dipenjara selama 27 tahun karena perjuangannya itu. Di penjara pun, ia mengalami perlakuan diskriminatif dan merendahkan. Ia pernah digantung dengan kepala terbalik, lalu kepalanya dikencingi oleh seorang sipir. Namun, setelah Mandela keluar dari penjara dan kemudian terpilih menjadi presiden Afrika Selatan, dalam acara pelantikannya, Mandela mengundang sipir tersebut sebagai tamu kehormatan. Ia menyalaminya dan berkata, “Terima kasih, perlakuan Anda beberapa tahun silam telah menguatkan saya untuk memenangkan perjuangan ini.” Mandela berdamai dengan masa lalunya dan mengampuni sipir itu.
Mengampuni memang tidak mudah dilakukan. Untuk mengampuni, kita harus bisa berdamai dengan masa lalu. Esau adalah orang yang seharusnya sulit mengampuni dan berdamai dengan Yakub. Ia pernah ditipu untuk menjual hak kesulungan kepada Yakub. Berkat kesulungannya pun dirampas oleh Yakub dengan tipu daya terhadap Ishak. Namun, setelah bertahun-tahun, Esau ternyata mengampuni Yakub. Yakub yang merasa bersalah, merasa ketakutan saat hendak bertemu Esau. Bahkan, saat mereka bertemu, Yakub meminta maaf dan bersujud sampai tujuh kali. Yakub tidak menyangka Esau akan mengampuninya. Esau malah memeluk dan merangkulnya dalam kasih sayang seorang saudara. Esau sudah berdamai dengan masa lalu, maka ia pun mengampuni Yakub.
Teens, kita belajar dari Nelson Mandela dan Esau untuk berdamai dan mengampuni. Dengan pengampunan, beban dari yang tersakiti dan yang menyakiti akan terlepas. Mereka berdamai dengan masa lalu, mengampuni orang yang bersalah, untuk melangkah ke depan tanpa beban. Sudahkah kamu mengampuni yang bersalah dan berdamai dengannya?
