Taat itu gampang diucapkan, tetapi susah banget untuk dijalani. Apalagi kalau yang diminta itu bertentangan dengan keinginanmu. Misalnya, disuruh matiin ponsel padahal lagi di tengah games yang seru banget, atau disuruh bantu orangtua padahal kamu ngerasa sudah capek banget belajar, atau disuruh minta maaf duluan padahal kamu ngerasa nggak salah. Taat itu bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi belajar membentuk diri dengan disiplin dan kasih. Taat juga bukan cuma soal menurut, melainkan soal hati yang rela melepaskan ego pribadi.
Dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Filipi pasal 2, diperlihatkan betapa dalamnya ketaatan Yesus. Ia adalah Tuhan, Anak Allah, tetapi Ia rela menjadi manusia, bahkan rela menderita karena dosa kita. Ia taat sampai mati di kayu salib, dan karena ketaatan-Nya itu, kita semua diselamatkan. Artinya, kadang ketaatan membawa kita ke jalan yang tidak mudah, tetapi selalu menuju hasil yang indah. Taat berarti belajar tunduk, bukan karena terpaksa, tetapi karena percaya bahwa Pribadi yang kita taati adalah Tuhan serta orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi kita dan menginginkan kita menjadi versi terbaik dari diri kita. Yesus, Sang Anak Allah, saja mau hidup taat. Oleh karena itu, kita juga dipanggil untuk belajar taat meskipun tidak dimengerti, tidak disukai, tidak enak, dan tidak menyenangkan. Taat itu tidak mudah, tetapi membentuk.
Teens, taat bukan berarti lemah. Justru, taat adalah bentuk kekuatan terbesar sebagai anak Tuhan, karena taat butuh kerendahan hati dan keberanian untuk memilih kehendak Tuhan di atas keinginan sendiri. Taat memang tidak selalu enak dan menyenangkan. Namun, orang yang belajar taat akan menjadi pribadi yang kuat, bertanggung jawab, dan bijaksana.
