Kamu sadar nggak sih, sekarang kita sedang berada di zaman yang serba cepat? Kalau mau tahu sesuatu, tinggal buka browser, lalu jawabannya akan muncul dalam beberapa detik. Kalau mau makan cepat, tinggal bikin mi instan atau buka saja aplikasi pengantaran makanan. Kalau mau main sama teman, tinggal janjian saja lewat sosmed. Semua dilakukan dengan cepat dan instan. Namun, kita harus berhati-hati. Kehidupan yang serba cepat ini mungkin memengaruhi kita menjadi pribadi yang kurang sabar.
Kesabaran adalah buah dari Roh Kudus (Gal. 5:22–23). Artinya, ini bukan sifat alami yang langsung muncul begitu saja. Kesabaran perlu dilatih. Kamu perlu waktu dan harus membiarkan Tuhan bekerja dalam proses itu. Kira-kira, apa saja bentuk latihan kesabaran yang dapat kita lakukan? Kita bisa belajar sabar menanti perubahan dalam diri. Tidak semua pelajaran bisa langsung dimengerti. Kadang, kita membutuhkan waktu untuk memahami diri sendiri dan bertumbuh secara perlahan. Selain itu, kita juga belajar sabar menghadapi orang lain: teman yang menyebalkan, guru yang bikin pusing, atau keluarga yang tidak selalu memahami kita. Semua itu adalah “tempat latihan sabar” yang luar biasa. Kita juga diajak untuk belajar sabar menanti jawaban Tuhan. Doa-doa yang belum dijawab Tuhan bukan berarti Ia diam. Mungkin Tuhan sedang mengerjakan sesuatu dalam dirimu sambil kamu menanti.
Belajar sabar itu seperti menanam pohon. Kita tidak bisa langsung melihat buahnya. Namun, jika kita setia menyirami, menjaga, dan menunggu, pada waktunya pohon itu akan bertumbuh dan berbuah. Tuhan pun sedang menanam banyak hal baik dalam dirimu. Jangan buru-buru ingin melihat hasilnya sekarang juga. Sabar. Tuhan tidak pernah terlambat.
