Kadang, kita terlalu sibuk dengan diri sendiri. Deadline tugas, chat yang belum dibalas, mood kita yang naik turun tidak jelas, sampai drama-drama kehidupan yang harus dihadapi di sekolah atau di rumah. Namun, pernahkah kamu memikirkan, “Bagaimana kabar orang yang ada di sebelahku hari ini?” Mungkin ia tersenyum, tetapi sebenarnya sedang lelah. Atau yang biasanya ceria, tiba-tiba menjadi pendiam. Dunia mereka mungkin sedang berantakan, tetapi kamu tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada duniamu sendiri. Pernahkah kamu melihat tanaman yang hampir layu? Daunnya mulai mengeriting, warnanya kusam. Namun, ketika kamu menyiramnya, memindahkannya ke tempat yang terkena sinar matahari, dan memberinya perhatian, perlahan tanaman itu hidup kembali. Manusia pun demikian. Kadang, yang mereka butuhkan hanyalah perhatian kecil dan sederhana, kepedulian yang tulus.
Dalam Matius 25:40b, Yesus mengatakan bahwa setiap kali kita peduli kepada yang “kecil”, yang terlupakan, yang disingkirkan, dan yang tidak dianggap, kita sedang melayani Tuhan. Jadi, ketika kita memberikan perhatian kepada teman yang sedang sedih atau menolong tanpa pamrih, di mata Tuhan kita sedang melakukan hal yang besar. Melakukan kebaikan bagi sesama itu sama dengan melakukan kebaikan bagi Tuhan.
Teens, kita semua suka diperhatikan, tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk memulai terlebih dahulu. Belajar peduli berarti membuka mata lebih lebar, membuka hati lebih luas, serta membiarkan kasih Tuhan mengalir melalui hal-hal sederhana. Kadang, itu hanya berupa senyum, sapaan, duduk bersama tanpa kata, mendengarkan tanpa menghakimi, atau bahkan sebuah pesan, “Kalau kamu butuh teman, aku ada untukmu.” Sederhana, tetapi dapat menjadi hal besar bagi orang lain dan juga untuk kemuliaan nama Tuhan.
