Kapan sih kata “melayani” sering kamu dengar? Mungkin, lebih banyak di gereja: jadi pemusik, singer, worship leader, usher, pengurus komisi, bahkan jadi panitia di acara gereja. Apa sih artinya melayani? Ada orang yang berpikir, melayani itu hanya dalam tugas-tugas gerejawi. Padahal, melayani adalah gaya hidup, bukan sekadar jadwal mingguan.
Yesus yang adalah Anak Allah, datang bukan untuk duduk di takhta kerajaan dan minta dilayani, meskipun Ia bisa memilih untuk melakukan itu. Tuhan Yesus turun ke dunia dan mengambil posisi yang paling rendah. Ia melayani dengan kasih. Ingatkah cerita ketika Yesus membasuh kaki para murid-Nya (Yoh. 13)? Pembasuhan kaki adalah tugas seorang budak! Namun, Yesus justru melakukan itu untuk memberikan kita teladan.
Teens, melayani bukan soal panggung. Yesus menunjukkan bahwa melayani bukan soal posisi, sebab Tuhan Yesus justru mengambil posisi yang paling rendah. Melayani juga bukan soal terlihat hebat. Kadang malah tidak kelihatan. Ketika kamu mendoakan teman, menyapa gurumu, membantu orangtua tanpa diminta, itu adalah pelayanan. Melayani adalah ketika kamu mengutamakan orang lain dengan kasih yang tulus. Melayani juga membutuhkan hati yang mau peduli dan rendah hati. Maka, mulailah belajar melayani dari hal kecil, seperti menjadi pendengar yang baik, membantu adikmu belajar, atau mengucapkan terima kasih kepada penjaga sekolah. Ingatlah, melayani bukan tentang orang yang kita layani, melainkan tentang siapa kita yang sedang dibentuk oleh Tuhan. Tuhan tidak mencari anak yang paling hebat, tetapi Tuhan mencari hati yang mau dipakai oleh-Nya dan melayani-Nya lebih sungguh. Jangan tunggu “siap” untuk melayani. Mulailah dengan langkah kecil, tetapi dengan hati yang besar.
