“Besok saja deh, ngerjain tugasnya. ” “Lima menit lagi deh, bangunnya.” “Belum mood nih, buat belajar, nanti saja deh tunggu semangat.” Pernah nggak kamu berkata seperti ini? Kemalasan itu datangnya diam-diam, perlahan-lahan, tetapi dampaknya sangat besar. Sebab, kemalasan bisa membuat kita berpikir, “Aku masih punya waktu.” Namun, kenyataannya waktu tidak pernah menunggu kita, bahkan waktu tidak bisa diputar ulang. Kemalasan terlihat menyenangkan, tetapi ujungnya menyusahkan.
Amsal 6:9-11 menggambarkan si pemalas sebagai orang yang tidur-tiduran, padahal kekurangan dan masalah sedang mendekat. Sejak awal Tuhan menciptakan manusia, Tuhan memberi kita tugas dan tanggung jawab. Adam diminta untuk mengusahakan taman, bukan tidur-tiduran. Kita pun diciptakan untuk aktif, berkarya, belajar, dan bertumbuh. Oleh karena itu, mari mulai dari hal yang kecil, seperti: bangun pagi tepat waktu, membersihkan tempat tidur, serta mengerjakan tugas sekolah sebelum waktu pengumpulan. Buatlah jadwal di tempat yang terlihat olehmu, dan kurangi distraksi saat kamu sedang melakukan sesuatu. Godaan terbesar malas itu sering datang dari layar handphone-mu.
Teens, belajar melawan kemalasan adalah proses seumur hidup. Tidak apa-apa kalau kamu gagal beberapa kali, yang penting kamu mau bangkit dan mencoba lagi. Tuhan tidak meminta kamu langsung sempurna, tetapi Tuhan rindu kamu mau bertumbuh dan menjadi pribadi yang disiplin. Sebab, hidup yang bermakna dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan setia. Setiap langkah kecil yang kamu ambil hari ini akan menentukan kualitas hidupmu di masa depan. Karena itu, jangan menunda untuk melakukan hal yang baik ketika kamu bisa memulainya sekarang.
