Menurutmu, mana yang lebih nyaman: berteman dengan yang “satu frekuensi” atau berteman dengan yang berbeda dengan kita? Mungkin lebih nyaman dengan orang yang “satu frekuensi” dengan kita, sebab ngobrol-nya bisa nyambung. Suatu ketika, ada dua orang teman sekelas bernama Rani dan Fani. Keduanya sangat berbeda. Rani adalah anak yang lahir dan besar di kota. Ia suka berbicara cepat, aktif, dan selalu update. Fani adalah anak dari desa yang pindah ke kota. Ia berbicara lambat, pemalu, dan tidak terlalu mengikuti tren. Awalnya, Rani malas berteman dengan Fani. Namun, suatu kali, saat ada tugas kelompok, Rani dipasangkan dengannya. Dari situ, Rani justru belajar kesabaran, belajar menghargai orang yang berbeda cara berpikirnya, dan bahkan menemukan banyak hal baru yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Kini, mereka menjadi sahabat baik.
Rasul Paulus, dalam Roma 12:16, mengajak kita untuk hidup sehati sepikir dan tidak merasa paling benar atau paling pandai. Namun, hal ini hanya bisa terjadi ketika kita mau membuka diri terhadap perbedaan. Belajar dari teman yang berbeda bukan hanya soal menghargai, tetapi juga soal memperluas cara pandang kita. Sebab, belajar dari teman yang berbeda adalah cara Tuhan mengajari kita tentang kasih, kerendahan hati, dan keberagaman. Kita tidak bisa belajar mengasihi jika kita hanya bersama dan berteman dengan orang yang sama dengan kita. Perlu kebesaran hati untuk berteman dengan orang yang berbeda.
Ingat, ketika ketika Tuhan Yesus masih hidup di dunia, Ia mau berteman dengan orang-orang yang dianggap “berbeda” oleh masyarakat pada waktu itu. Maka, sebagai pengikut-Nya, marilah kita membuka hati. Siapa tahu, dari perbedaan yang selama ini kita hindari, kita justru mendapatkan sahabat yang baik
