Bagi sebagian orang, kesunyian itu menakutkan. Diam tanpa suara terasa canggung. Sunyi seperti ruang kosong yang mengintimidasi, seakan-akan kita sedang dikurung dalam riuhnya suara hati dan pikiran kita sendiri. Karena itu, mungkin ada di antara kita yang secara refleks mengisi waktu dengan musik, video, chat, atau scrolling sosmed tanpa henti karena takut sendirian. Kita takut menghadapi diri sendiri. Padahal, justru di sanalah Tuhan sering kali hadir. Seorang remaja pernah berkata kepada kami, “Aku lebih suka tidur sambil dengar lagu karena kalau nggak, aku nggak bisa tidur karena overthinking. Soalnya banyak banget kata-kata yang seharusnya nggak kukeluarkan. Aku jadi malu sendiri, dan juga banyak hal yang membuatku bersedih.” Jujur, mungkin itu juga relate dengan beberapa di antara kita. Namun, di balik keributan dalam kepala dan perasaanmu yang kacau itu, Tuhan justru ingin kamu belajar untuk diam.
Dalam Mazmur 46 tertulis, “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” Diam bukan berarti pasrah, dan kesunyian bukan berarti kehampaan. Diam adalah keheningan yang penuh makna, dan kesunyian adalah tempat kita mendekat kepada Allah. Ia tidak datang lewat gemuruh, tidak selalu hadir melalui mukjizat yang besar, tetapi sering kali melalui “suara yang kecil dan lembut” (1 Raja-Raja 19:12). Yesus pun mengambil waktu untuk menyendiri. Berkali-kali dikisahkan dalam Alkitab bahwa Yesus “pergi ke tempat sunyi” untuk berdoa. Ia tahu bahwa jiwa-Nya memerlukan ruang untuk berbicara dengan Bapa.
Teens, kesunyian bukanlah tempat pelarian. Kesunyian adalah tempat perjumpaan dengan Bapa. Tempat kita bisa jujur. Tempat air mata boleh jatuh tanpa harus ditutupi. Tempat kita dapat menyadari bahwa Tuhan selalu hadir bagi kita.
