Pernah dengar kisah Thomas Alva Edison, sang penemu lampu? Ia pernah gagal ribuan kali sebelum akhirnya menemukan lampu pijar. Ia pernah berkata, “Aku tidak gagal. Aku hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil.” Coba bayangkan jika Edison menyerah setelah kegagalan yang ke-100, mungkin kita tidak menggunakan lampu seperti sekarang. Bukan hanya itu, ketika kamu masih kecil dan belajar berjalan, ingatkah kamu berapa kali kamu jatuh? Coba deh tanya orangtuamu. Namun, apakah kamu lalu tidak mau berdiri dan mencoba berjalan lagi? Tidak, bukan? Kamu tetap mau berjalan, dan sekarang bahkan kamu bisa berlari.
Alkitab tidak menutupi kenyataan bahwa hidup penuh dengan tantangan dan kegagalan. Bahkan Paulus, seorang rasul yang hebat, berkata bahwa kesengsaraan menimbulkan ketabahan dan pada akhirnya pengharapan. Dalam kehidupanmu, kegagalan bisa muncul dalam bentuk apa pun. Namun, kegagalan bukan hanya tempat kita jatuh. Kegagalan adalah ruang belajar. Kita belajar bahwa kita bukan pusat dunia, kita membutuhkan pertolongan Tuhan, dan kita dapat bertumbuh menjadi lebih baik untuk terus memuliakan-Nya. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup akan selalu mulus. Namun, Tuhan dapat memakai kegagalan kita untuk mendewasakan dan membentuk kita.
Teens, mungkin kamu pernah merasa gagal dalam sesuatu yang sudah kamu usahakan habis-habisan. Mungkin gagal masuk tim basket, gagal menjadi ketua OSIS, gagal menjaga janji, mendapat nilai jelek pada pelajaran favorit, atau merasa ditolak oleh orang yang kamu percaya. Rasanya mungkin nyesek banget. Namun, ternyata kegagalan bukanlah segalanya. Justru, kegagalan bisa menjadi titik awal pertumbuhan baru jika kita mau belajar darinya.
