Demi meningkatkan produksi pangan, pemerintah membagikan benih padi unggul kepada para petani. Salah seorang petani, Pak Anto, menerima benih itu dengan gembira. Namun, karena cuaca sedang tidak menentu, ia memutuskan untuk menyimpan dahulu benih itu di gudang. “Nanti saja, kalau musimnya bagus. Kalau sekarang, bisa-bisa gagal panen,” pikirnya. Musim pun berganti, tetapi ia terus menunda karena merasa waktu yang tepat belum datang. Hingga akhirnya, saat ia memeriksa gudang, benih unggul itu sudah busuk dan tidak bisa tumbuh lagi.
Dalam hidup ini, Allah sudah memberikan kepada setiap kita “benih” yang unggul, yaitu karunia dan kemampuan yang unik. Karunia itu bukan tanpa tujuan. Allah memberikannya agar kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. Itulah yang dihayati oleh Yusuf. Ia memiliki karunia menafsirkan mimpi. Ia pun tetap menggunakannya meski sedang di dalam penjara. Yusuf tidak menunggu waktu dan situasi yang menurutnya baik untuk memakai karunia itu. Ia menawarkan diri untuk menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti kerajaan. Bagi Yusuf, setiap kesempatan adalah waktu yang tepat untuk menjadi berkat. Allah pun sudah memberi bekal kepadanya melalui karunia menafsirkan mimpi.
Teens, Tuhan juga sudah memberi kita karunia yang istimewa, entah itu lewat talenta, kepandaian, kepedulian, atau semangat melayani. Semua itu adalah bekal dari Tuhan agar kita mampu menjadi berkat. Melaluinya, kita dimampukan untuk membawa kebaikan di mana pun kita berada. Karena itu, jangan biarkan karunia tersimpan begitu saja. Jangan menunda untuk menggunakannya! Gunakan karunia untuk menolong, menguatkan, dan menghadirkan kasih Tuhan bagi orang lain kapan pun dan di mana pun. Dengan demikian, kita akan merasakan hidup yang tidak sia-sia.
