Seorang anak nyaris tenggelam saat sedang berenang. Beruntung, ada seorang penjaga kolam yang segera menolongnya hingga anak itu selamat. Sejak peristiwa tersebut, sang anak belajar berenang dengan sungguh- sungguh agar tidak tenggelam lagi. Selain terus berhati-hati saat berada di kolam, ia juga selalu mengucapkan terima kasih setiap kali bertemu penjaga kolam itu. Tentu ia tidak dapat membalas sepenuhnya nyawa yang telah diselamatkan. Namun, ia dapat menunjukkan sikap hidup yang benar sebagai wujud penghargaan atas keselamatan tersebut.
Pemazmur merasakan masa-masa hidupnya nyaris berakhir ketika maut, kesesakan, dan kesedihan mengepungnya. Namun TUHAN menjawab doanya dan membebaskannya. Pemazmur pun menyatakan rasa syukur yang mendalam serta komitmen untuk membalas kasih TUHAN dengan hidup yang menyembah, memuliakan, dan menaati-Nya secara nyata. Hal ini bukan soal membalas jasa layaknya transaksi perdagangan, melainkan respons hati yang tersentuh oleh anugerah.
Youth, kita pun tentu sering mengalami pertolongan Tuhan: diberi kesempatan untuk kuliah, diselamatkan dari kecelakaan, dipulihkan dari sakit, atau dikuatkan saat mengalami depresi. Lalu, bagaimana kita meresponsnya? Pemazmur menantang kita untuk mempersembahkan hidup: terlibat dalam pelayanan, menjaga kekudusan hidup, berbagi berkat, serta bersaksi di tempat kerja atau kampus. Itulah “piala keselamatan” yang kita angkat, yaitu hidup yang memuliakan Tuhan.
- Apa saja yang Tuhan lakukan pada pemazmur?
- Bagaimanakah caramu mengucap syukur atas keselamatanmu?
Pokok Doa: Memuliakan Tuhan dalam hidup yang benar.
