Kekuasaan—lebih tepatnya, persoalan kepada siapa kekuasaan untuk memimpin dipercayakan serta apa batas-batas kekuasaan tersebut—merupakan unsur penting dalam kehidupan bersama. Hal ini berlaku baik dalam komunitas kecil maupun dalam komunitas yang lebih besar, seperti sebuah negara. Kita dapat membayangkan kekacauan yang akan terjadi apabila tidak ada pengaturan yang jelas dan tegas mengenai hal ini. Bayangkan jika semua orang ingin berperan sebagai pemimpin. Bayangkan jika pihak yang memimpin menjadi rakus akan kekuasaan, bersikap otoriter, dan sewenang-wenang. Bayangkan pula jika para pemimpin hanya mengedepankan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongannya sendiri.
Kira-kira seperti itulah gambaran kepemimpinan di kalangan masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Kehadiran Yesus, pengajaran-Nya, serta tindakan-tindakan-Nya membuat sebagian pemimpin masyarakat Yahudi merasa terancam. Mereka merasa terancam karena telah terlanjur nyaman dengan kekuasaan yang selama ini mereka pegang. Ketidaksukaan yang memuncak menjadi kebencian terhadap Yesus mendorong mereka untuk bersepakat membunuh-Nya. Padahal, Yesus adalah Sang Kristus, Mesias yang dinanti-nantikan itu.
Hati-hatilah terhadap kekuasaan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi berkat dapat berubah menjadi malapetaka ketika kita telanjur melekat dan terlena olehnya.
DOA:
Ya Bapa, Allah yang empunya segala kuasa, tolonglah agar para penguasa tidak menyalahgunakan kekuasaan yang dipercayakan pada mereka. Amin.
Kid. 8:5-14; Mzm. 144; Yoh. 11:45-57
