Secara fisik, Oma Ani memang tampak ringkih. Sudah sejak lama ia tidak dapat berdiri tegak. Dengan posisi tubuh yang membungkuk, ia menjalani hari-harinya di panti wreda. Meskipun demikian, ia bagaikan batu karang yang tetap tegak berdiri, menjadi kekuatan dan sandaran bagi teman-temannya. Kehadirannya laksana cahaya yang menerangi kegelapan. Di dalam dirinya, setiap orang dapat merasakan kehangatan “api” kasih Tuhan.
Hari ke delapan tiba. Musa meminta Harun dan para tua- tua Israel mempersiapkan persembahan kurban seperti yang diperintahkan TUHAN. Lalu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Setelah kurban dipersembahkan di atas mezbah, api TUHAN turun dari langit dan menghanguskan kurban tersebut sebagai tanda bahwa TUHAN menerima persembahan itu. Bagi umat Israel, peristiwa ini menjadi konfirmasi bahwa TUHAN sungguh hadir di tengah-tengah mereka. Ibadah itu bukan sekadar ritual, melainkan perjumpaan dengan Allah yang hidup.
Sahabat Senior, Tuhan memang tidak terlihat oleh mata jasmani kita. Kehadiran-Nya juga tidak tertangkap oleh telinga kita. Namun demikian, kehadiran-Nya tetap dapat dirasakan melalui orang-orang yang hidupnya bertaut sepenuhnya kepada Tuhan. Api Tuhan seolah-olah “membakar” mereka, sehingga tetap menyala dan memberi terang di tengah kegelapan.
DOA:
Ya Tuhan, kiranya api-Mu menghangatkan setiap hati melalui kehadiran kami. Amin.
