Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman, dalam bukunya The Cost of Discipleship, menolak konsep anugerah murahan. Ia berkata bahwa anugerah murahan adalah anugerah yang diterima tanpa pertobatan dan perubahan hidup. Sebaliknya, anugerah sejati adalah anugerah yang mahal. Kristus menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan dunia. Karena itu, anugerah sejati menuntut segalanya dari kita: komitmen, perubahan hidup, bahkan kesediaan untuk mengikuti Kristus sampai mati. Bonhoeffer sendiri membuktikan hal itu melalui keberaniannya mengikut Kristus hingga ia mati di tiang gantungan pada masa rezim Nazi.
Dalam Roma 13:8–14, Paulus menekankan pentingnya hidup dalam anugerah yang mahal ini. Orang-orang yang menerima kasih Kristus harus menunjukkan integritas hidup sebagai orang Kristen secara total. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Kasih adalah kegenapan hukum Taurat. Orang yang sudah menerima anugerah yang mahal hendaklah hidup dengan kesadaran penuh. Tak heran Paulus berkata, “Saatnya sudah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur.” Kita diminta untuk menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang. Tinggalkanlah percabulan, hawa nafsu, perselisihan, dan iri hati.
Youth, banyak selebgram yang mengaburkan pemahaman kita dengan konsep anugerah murahan. Kasih sayang Tuhan yang terus tersedia bukan berarti kamu boleh bebas hidup dalam dosa. Sebaliknya, anugerah Kristus yang mahal mengajakmu untuk hidup dalam penguasaan diri dan pembaruan hidup.
- Bagaimana seharusnya orang Kristen hidup dalam anugerah Tuhan?
- Sebutkan contoh-contoh konsep anugerah murahan yang sering kamu dengar di media sosial dari berbagai selebgram!
Pokok Doa: Pemuda/i Kristen hidup dalam integritas.
