Menurut teori self-esteem (Rosenberg, 1965), kritik dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap harga diri. Otak memproses kritik tidak hanya sebagai informasi, tetapi juga sebagai potensi serangan psikologis. Respons yang muncul bisa berupa tindakan defensif, marah, atau mengabaikan kritik. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan self-esteem yang rapuh akan lebih defensif terhadap kritik karena ingin mempertahankan citra “sempurna”.
Saat menyatakan pembelaannya di hadapan Mahkamah Agama dan orang-orang yang menolak Kristus, Stefanus memaparkan berbagai peristiwa masa lalu yang dialami oleh nenek moyang umat Israel. Salah satunya, ia menjelaskan tentang bagaimana para nabi telah dianiaya. Bahkan mereka membunuh utusan Allah yang telah memberitakan kedatangan Mesias. Hal itu juga berarti bahwa mereka yang menolak Mesias juga telah menjadi pengkhianat dan pembunuh-Nya. Namun, bukannya menelaah penjelasan Stefanus dan menyadari kekeliruan mereka, hal-hal yang dikatakan Stefanus justru membuat hati mereka panas.
Youth, menerima teguran atau kritik memang bukan hal yang menyenangkan. Ketika kekeliruan kita diungkapkan oleh orang lain, kita cenderung mempertahankan citra diri yang baik dan sempurna. Mari belajar untuk menjadi pribadi yang tidak anti kritik, karena menutup diri dari masukan sama artinya menutup pintu pertumbuhan diri. Kritik, meski kadang terasa sakit adalah cermin yang menuntun kita menuju kebenaran dan perbaikan. Bersikap terbuka terhadap kritik berarti berani menghadapi diri sendiri dan menjadi pribadi yang lebih bijaksana.
- Mengapa orang yang menolak Kristus juga berarti telah membunuh-Nya?
- Bagaimana pengalamanmu dalam merespons kritik?
Pokok Doa: Menjadi pribadi yang bijak dalam merespons kritik.
