Dalam sebuah kebaktian penyegaran iman, banyak umat yang merasa tersentuh dan menangis ketika menyanyikan lagu-lagu penyembahan. Khotbah yang disampaikan menggugah dan menginspirasi umat. Ajakan untuk memperbarui komitmen mengikut Yesus dan mengubah kehidupan ditanggapi positif oleh kebanyakan umat. Seorang pemudi berjanji untuk berubah dan lebih sungguh mengikut Yesus. Namun, sebulan setelah kebaktian penyegaran iman itu, ia tidak mengalami perubahan. Ia masih jarang berdoa, lebih memilih pergi jalan-jalan dengan teman daripada ke gereja.
Pemazmur mengajak umat untuk menyembah TUHAN dengan sorak- sorai dan nyanyian syukur (ayat 2). Namun, pemazmur melanjutkan bahwa penyembahan kepada TUHAN tidak berhenti pada ibadah yang meriah dan menyentuh secara emosional saja. Penyembahan kepada TUHAN adalah soal mendengar suara-Nya (ayat 7), tidak mengeraskan hati (ayat 8), dan bersedia menaati-Nya. Sikap sujud menyembah dan berlutut adalah simbol merendahkan diri dan ketaatan. Umat Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir, ketika di Meriba dan Masa, menjadi contoh tentang kekerasan hati. Padahal mereka telah melihat perbuatan ajaib TUHAN (ayat 9), tetapi mereka tetap tidak berubah.
Youth, merasa tersentuh dalam ibadah tidaklah cukup. Lakukanlah apa yang dikatakan firman Tuhan. Keyakinan tanpa ketaatan adalah tipu daya. Iman akan berakar dan bertumbuh melalui kedisiplinan rohani. Bacalah firman Tuhan setiap hari, dan berdoalah meski terasa membosankan. Tetaplah taat dan disiplin membangun hidup rohani. Dengan begitu, penyembahan sungguh mengubahmu.
-
- Mengapa menyembah Allah perlu melibatkan ketundukan dan ketaatan?
- Apakah ibadahmu masih sekadar ritual atau sungguh-sungguh mengubahmu?
Pokok Doa: Menyembah dengan segenap hati dan ketaatan.
