Teens, ada slogan yang biasa dipakai untuk menjelaskan hukum rimba: siapa yang kuat, dialah yang menang. Sebetulnya, hukum itu, sesuai dengan namanya, hanya berlaku di rimba, di hutan, dan tentu saja hanya bagi para penghuni hutan. Anehnya, hukum itu ternyata berlaku juga bagi manusia, bahkan di era postmodern ini.
Firaun adalah penguasa tertinggi di Mesir, satu tingkat di bawah dewa-dewa Mesir. Ia adalah penguasa yang semua perintahnya harus ditaati oleh rakyat Mesir. Ia tidak menerima perintah dari siapa pun, kecuali dari dewa yang dikenalnya dan disembahnya. Tidak heran, Firaun menolak ketika Musa dan Harun meminta agar umat Israel diizinkan pergi beribadah kepada TUHAN. Ia tidak mengenal TUHAN, Allah yang disembah oleh bangsa Israel. Itulah sebabnya ia bertanya sambil menantang, “Siapakah TUHAN itu sehingga aku harus mendengarkan firman-Nya?” Jika Firaun bersedia mendengar permintaan TUHAN melalui Musa dan Harun, berarti ia dianggap lemah karena tunduk kepada dewa bangsa lain. Karena itu, ia menantang TUHAN dengan menindas umat Israel lebih keras dan lebih kejam daripada sebelumnya. Ia ingin mengetahui seberapa besar kuasa Allah yang disembah oleh bangsa Israel.
Teens, suka atau tidak, setuju atau tidak, hukum rimba masih berlaku sampai sekarang dalam kehidupan kita. Orang berusaha menjadi kuat, bahkan kalau bisa menjadi yang paling kuat dalam banyak hal, bahkan jika bisa dalam segala hal. Karena itu, orang cenderung saling adu kuat. Hari ini kita belajar bahwa kekuatan yang sejati hanya ada di dalam Tuhan. Ketika menghadapi berbagai tantangan, pilihan terbaik adalah memohon kekuatan kepada Tuhan agar kita mampu menanggung dan mengelola setiap tantangan dengan baik. Bukan supaya kita menang atas orang lain, melainkan agar kita menang atas diri sendiri.
