Ini adalah kisah tentang seorang yang berutang sepuluh ribu talenta dan tidak sanggup membayarnya ketika sudah jatuh tempo. Andaikan segala miliknya, termasuk istri dan anak-anaknya, dijual pun, utang itu tetap tidak akan terbayarkan. Ia lalu bersujud memohon belas kasih sang tuan. Sang tuan pun luluh dan membebaskannya dari seluruh utangnya. Betapa lega dan gembira hatinya karena utangnya telah lunas. Sayangnya, ketika ia bertemu sesama pegawai yang memiliki utang kepadanya seratus dinar, ia menuntut pembayaran bahkan memasukkannya ke dalam penjara. Karena itu, marahlah sang tuan kepada hamba yang jahat itu. Utang yang besar telah dihapuskan, tetapi ia tidak memiliki belas kasih untuk membebaskan temannya yang berutang sangat kecil kepadanya.
Utang itu menggambarkan dosa kita yang sering kita perbuat di hadapan Tuhan. Dosa kita itu besar, seumpama sepuluh ribu talenta—angka yang begitu besar hingga tak mungkin kita bayar dengan apa pun. Karena itu, kita pun dengan sungguh- sungguh memohon pengampunan dari Tuhan. Tuhan pun memberi pengampunan. Sayangnya, kita sering kali abai dan sulit mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Padahal, jika kita mau jujur dan merujuk pada firman Tuhan hari ini, dosa kita kepada Tuhan jauh lebih besar dibandingkan dosa seseorang kepada kita.
Teens, salah satu kekuatan untuk mengampuni adalah tidak mengingat seberapa besar kesalahan yang dibuat orang kepada kita. Yang harus kita ingat adalah berapa banyak dosa yang telah kita perbuat dan berapa kali pengampunan itu dianugerahkan kepada kita. Jika kita mengingat betapa besar pengampunan Tuhan, maka kita akan melihat bahwa kesalahan orang kepada kita sungguh sangat kecil dan karena itu mudah untuk dihapus dari hati kita. Seperti Tuhan memberi kelegaan kepadamu, izinkan juga orang lain mengalaminya lewat kesediaanmu mengampuni mereka
