Komite Eksekutif World Communion of Reformed Churches (WCRC) atau Persekutuan Gereja-Gereja Reformed se-Dunia mengunjungi memorial bekas kamp konsentrasi Bergen-Belsen pada hari keempat pertemuan mereka. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengenang para korban kekejaman rezim Nazi sekaligus merefleksikan panggilan gereja untuk terus memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan.
Hari diawali dengan ibadah dan renungan yang disampaikan oleh anggota Komite Eksekutif, Kupa Munikwa, berdasarkan Pengkhotbah 3:1-12. Ia mengajak para anggota komite untuk belajar mendengarkan sebelum memimpin. Di tengah kekhawatiran mengenai masa depan gereja, Munikwa menyampaikan pesan pengharapan bahwa generasi muda tidak meninggalkan Allah, melainkan menjauh dari institusi yang mereka anggap membawa luka dan penderitaan. “Gereja tidak akan mati, tetapi gereja akan berubah,” ujarnya.

Kunjungan ke Bergen-Belsen membawa para peserta berhadapan secara langsung dengan sejarah kelam kemanusiaan. Bagi Munikwa, pesan “never again” atau “jangan pernah lagi” tetap relevan karena berbagai bentuk kekerasan dan penderitaan masih terjadi hingga saat ini, meskipun dalam bentuk dan tempat yang berbeda. Mereka berjalan menyusuri kawasan bekas kamp konsentrasi tersebut, tempat puluhan ribu orang tewas selama rezim Nazi. Mereka seperti dihadapkan dengan peristiwa nyata dan trauma sejarah. Bagi banyak orang, melihat langsung tempat tersebut seolah menyaksikan sejarah yang sebelumnya terasa abstrak menjadi sebuah kenyataan yang mencekam di dunia saat ini. Inti pesan dari napak tilas ini adalah ‘jangan pernah melupakan sejarah dan hal serupa tidak boleh terjadi lagi’. Sayangnya hal serupa itu masih terjadi. Hanya saja bentuk dan tempat yang berbeda.”
Jooseup Keum, salah seorang pemimpin ibadah dalam pertemuan itu, membagikan refleksi dan harapannya di tempat yang menyimpan begitu banyak luka dan penderitaan itu. “Jika kita hanya memejamkan mata dan mendengarkan kicauan burung serta suara-suara alam, sulit untuk memercayai bahwa kita sedang berdiri di bekas kamp konsentrasi. Kita mengingat kembali kisah-kisah yang terjadi di tempat ini untuk menghormati mereka yang telah meninggal. Dalam kenangan itu, kita mendengarkan dan mencari di mana letak harapan. Harapan bahwa orang lain tidak akan pernah lagi mengalami penderitaan seperti ini.”
Setelah kunjungan tersebut, komite berkumpul untuk mengikuti diskusi panel mengenai otoritarianisme dan kesaksian gereja. Prof. Dr. Meron Mendel, Direktur Anne Frank Educational Centre, menguraikan pergulatan panjang dan penuh perdebatan di Jerman dalam menghadapi ingatan tentang Holocaust. Ia mencatat bahwa ungkapan “jangan pernah lagi” (never again) kerap ditafsirkan secara bertentangan, sementara persoalan mengenai tanggung jawab dan sejarah Jerman tidak pernah berlangsung secara damai, mudah, ataupun didasarkan pada konsensus. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah masa lalu turut mempengaruhi Jerman dalam memutuskan kebijakan dan cara bergereja. Di satu sisi Jerman berusaha untuk lebih terbuka terhadap multikulturalisme dan multireligius, namun di sisi lain tetap ada penyangkalan dan ketidaksiapan dalam menghadapi keragaman yang kini menjadi salah satu isu penting di Jerman. Kondisi ini juga mempengaruhi kehidupan bergereja. Beberapa rahun belakangan ini banyak Gereja-gereja yang kekurangan jemaat dan akhirnya tutup karena banyak orang menilai bahwa Gereja tidak lagi dapat memberi ruang aman dan belum cukup terbuka dengan perbedaan.

Dalam pernyataannya, Mendel juga mengingatkan komite bahwa tugas gereja adalah mendorong nilai-nilai saling memahami yang melampaui batas-batas negara serta menolak instrumentalisasi agama demi kepentingan nasionalisme. Mendel mengakhiri pesannya dengan mengatakan, “Saya pikir gereja global harus menyadari bahwa ia hidup di tengah dunia yang sangat nasionalistis. Tugas gereja global adalah menemukan nilai-nilai bersama dan bahasa bersama yang tidak terlalu partikular dan tidak bersifat nasionalistis, sehingga dapat menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang.” Ia mengingatkan persekutuan gereja tersebut bahwa seruan “jangan pernah lagi” berlaku bagi semua orang, di setiap penjuru dunia.
Sementara itu, Pdt. Dr. Hanns Lessing, Sekretaris Eksekutif WCRC untuk bidang Persekutuan dan Teologi, membagikan kisah keluarganya yang berkaitan dengan sejarah Jerman dan Confessing Church. Ia menegaskan bahwa kejelasan teologis saja tidak cukup jika gereja tidak memiliki keberanian dan imajinasi strategis untuk menerjemahkan keyakinannya menjadi tindakan nyata.
Pdt. Jihyun Oh dari Presbyterian Church (USA) menyerukan pentingnya gereja melakukan pengakuan dosa dan menghadapi secara kritis berbagai bentuk teologi yang pernah mendukung perbudakan, Doctrine of Discovery, dan nasionalisme Kristen. Menurutnya, pengakuan dosa merupakan tindakan untuk mengatakan kebenaran dan mengingat sejarah dengan benar.
Komite Eksekutif WCRC meninggalkan Bergen-Belsen bukan dengan membawa jawaban, melainkan dengan pembaruan komitmen untuk mendengar, mengingat, dan meyakini bahwa bahkan di tempat-tempat yang paling gelap sekalipun, gereja dipanggil—bukan untuk mati, melainkan untuk melawan otoritarianisme dan mewujudkan keadilan bagi dunia melalui karya persekutuan dan kesaksian global.