YKB Media

Honai, Rumah Bersama Papua Resmi Diluncurkan

Pimpinan Gereja-gereja dan Keuskupan yang ada di Papua, yaitu GKI di Tanah Papua, Gereja Kingmi Papua, Gereja Kemah Injil Indonesia, Gereja Injili di Indonesia Papua, Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua, Gereja Pantekosta di Papua, Keuskupan Jayapura, dan Keuskupan Timika, secara bersama meresmikan HONAI (Humanitarian Outreach to Needs Assistance Initiative). Peresmian tersebut ditandai dengan pemukulan tifa secara bersama-sama. Tifa yang dipukul dengan irama dan ketukan yang sama adalah simbol bahwa kekuatan HONAI tidak terletak pada satu gereja, satu denominasi, atau satu lembaga. Kekuatannya lahir ketika gereja-gereja memilih berjalan bersama, sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, yaitu untuk kerja kemanusiaan.

 

HONAI merupakan ruang untuk berkumpul, bertukar pengalaman, membicarakan persoalan, mencari jalan keluar, sekaligus mempererat persaudaraan. Karena itu, filosofi tersebut dinilai perlu menjadi semangat dalam menjalankan HONAI agar wadah tersebut benar-benar berorientasi pada kepentingan kemanusiaan. “Bagi Papua, honai adalah tempat kehidupan,” ujar Mgr. Yanuarius dalam keterangannya. Ia mengatakan berbagai persoalan yang terjadi di Tanah Papua membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama. Gereja harus hadir secara langsung di tengah masyarakat, mendengarkan penderitaan umat, menyuarakan kebenaran, serta memperjuangkan martabat manusia. “Gereja dipanggil untuk menjaga kehidupan, memperjuangkan kebenaran dan keadilan, serta merawat persaudaraan di tengah berbagai perbedaan dan konflik,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Darwin Darmawan, mengatakan HONAI diharapkan menjadi rumah besar bersama bagi masyarakat Papua sekaligus ruang bagi gereja-gereja untuk menyatukan suara dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan. “Kalau Honai menjadi rumah besar bersama masyarakat Papua, dan hati pimpinan-pimpinan serta lembaga-lembaga gereja bersatu di bawah rumah besar ini, maka kita betul-betul bisa menyuarakan apa yang menjadi isi hati dan cerita terdalam masyarakat Papua,” ujarnya.

 

Peresmian Honai dihadiri juga oleh lembaga lintas agama, seperti Jaringan GUSDURian, pengurus wilayah Muhamadiyah Papua dan Majelis Ulama Indonesia di Papua. Dalam kesempatan tersebut, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, menyampaikan dukungannya secara daring melalui Zoom. Alisa menegaskan bahwa politik semestinya digunakan untuk menjamin kemaslahatan manusia, bukan menjadikan manusia sebagai korban kepentingan politik. “Politik seharusnya hadir untuk menjamin kemaslahatan manusia, bukan sebaliknya, manusia dikorbankan untuk kepentingan politik,” ujar Alisa.

 

Ia menilai peluncuran HONAI bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah langkah konkret menuju kebaikan dan kemaslahatan warga Papua. “Pada akhirnya kemanusiaan harus ditempatkan di atas segalanya,” tegasnya.

Ketua HONAI Rumah Bersama, Pdt. Andrikus Mofu, M.Th., mengatakan kehadiran HONAI berangkat dari kesadaran bahwa di balik angka korban dan pengungsi terdapat manusia dan keluarga yang menghadapi ketakutan, kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, serta keterbatasan akses terhadap kesehatan dan pendidikan. HONAI juga menyerukan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar membuka akses kemanusiaan seluas-luasnya serta menjamin perlindungan bagi pekerja kemanusiaan. Dialog kemanusiaan juga didorong sebagai salah satu jalan utama dalam penyelesaian konflik di Tanah Papua.

 

Kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik, HONAI menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga sipil dan penghormatan terhadap hukum humaniter, sekaligus memastikan adanya ruang aman bagi pelayanan kemanusiaan.
HONAI turut mengajak media lokal, regional, nasional dan internasional untuk memberitakan situasi Papua secara berimbang, mendalam dan berperspektif kemanusiaan. Dalam semangat honai sebagai rumah bersama, lembaga tersebut menegaskan pentingnya menyediakan ruang perlindungan bagi mereka yang kehilangan rasa aman, ruang untuk mendengar suara yang terabaikan, ruang pemulihan bagi mereka yang terluka, serta jembatan perjumpaan bagi semua pihak yang ingin membangun perdamaian.

 

Sumber: berbagi sumber (Tribun Sorong, Yakoma PGI, Paraparatv) ; Youtube Sinode GKI Di Tanah Papua

Dukungan