YKB Media

Berita Oikoumene

IMAN dan SOLUSI BERKELANJUTAN UNTUK KEUTUHAN BUMI

Para pemimpin Gereja di Kenya Utara menyerukan bantuan mendesak karena perubahan iklim yang berkepanjangan sehubungan dengan adanya kekeringan yang melanda wilayah mereka. Bishop Daniel Qampicha Wario dari Gereja Anglikan Keuskupan Marsabit mengatakan, “bantuan kemanusiaan darurat sangat dibutuhkan, karena curah hujan yang tidak memadai sehingga membuat masyarakat kekurangan air dan makanan serta ternak tidak dapat merumput.”

Menurutnya, hujan yang turun di beberapa tempat tidak mencukupi untuk ketersediaan kolam dan bahkan pertumbuhan vegetasi.

“Dampak perubahan iklim merupakan hal yang sangat serius. Pada tahun 2024 hujan musiman di seluruh wilayah turun dalam satu hari di bulan November, namun tidak pernah ada hujan pada bulan-bulan sebelumnya bahkan hingga bulan April 2025.” ujar Bishop Katolik Peter Kihara Kariuki dari Marsabit.

Pada kesempatan yang lain Lutheran World Federation (LWF) bersama dengan Catholic Youth Network for Environmental Sustainability in Africa (CYNESA), the Anglican Communion, the Southern African Faith Communities Environment Institute (SAFCEI), dan Brahma Kumaris menjadi tuan rumah dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Lingkungan yang ke-7 (United Nations Environment Assembly/UNEA-7) pada bulan Desember yang lalu.

Dengan menggunakan metodologi Talanoa dialog peserta merefleksikan tema konferensi melalui tiga pertanyaan panduan, yaitu: dimana kita, kemana kita akan pergi, dan bagaimana cara kita menuju ke arah sana. Fokus diskusi adalah nilai-nilai, etika, point-point yang sudah ada pada UNEA, serta kesempatan untuk melakukan aksi bersama dan koordinasi. Konferensi tersebut menggarisbawahi adanya potensi keterlibatan berbasiskan iman untuk mempengaruhi kebijakan dan implementasi serta tantangan yang terus berkelanjutan dalam mengartikan komitmen pada level international menjadi perubahan nyata pada level komunitas.

Isu mengenai lingkungan bukan hanya menjadi diskusi krusial yang terjadi di berbagai belahan dunia tetapi juga menjadi isu penting di Indonesia. Banjir besar yang melanda Sumatra di akhir November tahun 2025 yang lalu adalah salah satu bukti nyata kepedulian lingkungan menuntut tanggung jawab kita bersama. Maka, sebagai umat beriman Gereja-gereja pun dipanggil untuk turut bertanggung jawab dalam menyuarakan suara kenabiannya. Gelondongan kayu-kayu besar yang ikut hanyut adalah bukti parahnya deforestasi yang terjadi di Indonesia. Penebangan liar, pengalih fungsian hutan menjadi hutan sawit, penambangan ilegal di hampir semua pulau yang ada di Indonesia mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem dan kepunahan mahluk hidup yang ada. Contoh nyata adalah seekor gajah di Taman Nasional Way Kambas yang harus diamputasi karena terkena ranjau, seekor pesut Mahakam yang ditemukan mati karena menabrak tongkang, seekor orang utan yang tampak bingung melihat rumahnya yang hancur, menyempitnya hutan-hutan di Indonesia, semua fakta ini menjadi peringatan bagi kita bahwa mau tidak mau kita harus berbuat sesuatu. Jika Gereja-gereja yang memiliki privilege turut menyuarakan keprihatinan bersama, maka diharapkan akan tumbuh kesadaran di lingkungan masyarakat. Mengutip apa yang dikatakan oleh Flawa Malle, seorang pemimpin muda dari Tanzania, “kepedulian terhadap lingkungan dimulai dengan melindungi orang-orang yang menjaga lingkungan”. Hal ini dikatakan oleh Malle atas keprihatinannya terhadap sebagian orang yang dianggap pembawa masalah ketika mereka berusaha melindungi dan menjaga alam. Hal ini pun seringkali terjadi di Indonesia.

Dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup yang baru saja berlalu, 10 Januari kemarin, biarlah kita semakin dapat memegang komitmen kita untuk menjaga dan memelihara lingkungan bukan hanya untuk hari ini tetapi juga untuk hari depan kita bersama.