YKB Media

Bencana NTT dan Kesiapan Gereja Dalam Aksi Tanggap Bencana

Tepat dua hari sebelum hari Kemerdekaan Indonesia yaitu pada tanggal 15 Agustus 2026 yang lalu gempa bumi berkekuatan M7.7 mengguncang wilayah Flores dan meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Guncangan dahsyat tersebut tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga merusak pemukiman dan infrastruktur pendukung, memaksa puluhan ribu warga meninggalkan rumah mereka demi mencari perlindungan.

 

Sehari setelah bencana Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Jacklevyn Manuputty melakukan kunjungan pastoral dan melihat langsung kondisi warga setempat. Dalam kunjungannya Pdt. Jacklevyn mengunjungi Mbay, Kabupaten Nagekeo, salah satu wilayah yang berada dekat episentrum gempa. Kunjungan tersebut menegaskan bahwa Gereja selalu hadir untuk menemani dan berjalan bersama dengan umat yang sedang mengalami penderitaan.

Ditengah situasi krisis tersebut, Tim GKI melalui ruang lingkup sinode-sinode wilayah, telah mengambil langkah nyata. Penanganan difokuskan di tiga area terdampak utama, wilayah barat, tengah, dan timur Flores. Pendataan sampai tanggal 18 Agustus 2026 mencatat jumlah pengungsi yang telah mendekati angka 49.000 jiwa, suatu jumlah besar yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan secara masif. Pada fase tanggap darurat saat ini, fokus utama Tim GKI diprioritaskan untuk menjaga penyintas tetap bertahan dengan memenuhi kebutuhan paling mendasar: pasokan logistik, sarana kebersihan, hingga layanan kesehatan darurat di lokasi-lokasi pengungsian.

                                       

Pengalaman di Flores memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan dan penderitaan, namun juga trauma yang membekas. Namun di sisi lain bencana juga memberikan kesempatan bagi gereja untuk merefleksikan diri bagaimana agar dapat menjadi lebih siap ketika kejadian yang sama terulang lagi di lain waktu.

 

Seroja mengajarkan sesuatu. Lewotobi memberikan pengalaman lain. Gempa Flores kembali menambahkan pelajaran baru. Jika pengalaman-pengalaman tersebut hanya berhenti sebagai catatan sejarah, gereja akan terus mengulang kesalahan yang sama. Namun, jika pengalaman diolah menjadi pembelajaran, gereja dapat tumbuh menjadi komunitas yang semakin siap, tangguh, dan mampu mengelola risiko. Sebagai tindak lanjutnya, mari kita mengumpulkan dukungan untuk menolong mengurangi penderitaan saudara-saudara kita  di NTT.

 

Dukungan