Ketika terjadi penindasan terhadap orang kulit hitam di Amerika, Martin Luther King Jr. menentangnya dengan lantang. Ia meyakini bahwa manusia diciptakan setara oleh Tuhan. Keberaniannya dalam berbicara akhirnya membawa dampak besar bagi sejarah Amerika dan dunia. Ia tetap berani bersuara sekalipun menghadapi berbagai tekanan dan ancaman terhadap nyawanya. Ia juga mengkritik praktik bergereja yang abai terhadap isu sosial, khususnya praktik segregasi rasial. Pada waktu itu, orang Kristen berkulit hitam dan berkulit putih tersegregasi serta tidak duduk bersama di ruang ibadah.
Paulus, dalam 2 Korintus 13:1–4, mengatakan bahwa ia akan datang untuk ketiga kalinya mengunjungi jemaat tersebut. Dengan otoritas Kristus, Paulus akan datang untuk menegaskan pentingnya pertobatan bagi mereka yang telah dinasihati, tetapi tidak bertobat. Selama ini, ia menasihati mereka dengan lemah lembut. Namun, pada kunjungan yang ketiga, ia akan menyatakan kebenaran dengan membawa keterangan dari dua atau tiga orang saksi. Ia akan menyampaikan kebenaran karena kasih dan tanggung jawabnya dalam membimbing jemaat Korintus.
Youth, bagaimana perasaanmu saat melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan kebenaran? Jika kamu merasa gelisah, itu menandakan bahwa hati nuranimu bekerja dengan baik. Menyatakan kebenaran memang tidak selalu mudah. Ada risiko penolakan, bahkan penderitaan. Namun, Tuhan memanggil kita untuk menyatakan kebenaran dengan berhikmat. Nyatakanlah kebenaran untuk menuntun orang lain kepada pertobatan.
- Mengapa Paulus mau memperingatkan jemaat di Korintus dengan tegas?
- Pernahkah kamu merasa ragu ketika harus menegur atau menyampaikan kebenaran kepada orang lain? Mengapa?
Pokok Doa: Keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
