Seorang opa sedang menyapu halaman ketika seorang tetangga lewat dan menyapanya, “Selamat pagi, Pak Slamet!” Seketika wajahnya cerah. “Wah, masih ada yang ingat namaku,” katanya pelan sambil tersenyum. Pak Slamet merasa diingat dan dihargai saat seseorang memanggil dengan menyebut namanya.
Dalam teks Alkitab yang kita baca, diceritakan bahwa Musa sedang menggembalakan domba seperti hari-hari biasa. Namun, hari itu berbeda. Di Gunung Horeb, TUHAN memanggilnya dari semak yang menyala, “Musa, Musa!” Peristiwa ini menunjukkan bahwa TUHAN mengenal Musa secara pribadi. Ia bukan sekadar salah satu orang di padang gurun. Musa dikenal, dilihat, dan dipanggil TUHAN untuk tujuan yang mulia. Bahkan sebelum Musa menjawab, TUHAN telah hadir dan menyapanya. Nama Musa yang berarti “diangkat dari air”, mengingatkan bahwa perjalanan hidupnya telah TUHAN persiapkan sejak masa kanak-kanak.
Sahabat Senior yang terkasih, kita dikenal dengan sangat baik oleh Tuhan. Ia mengenal kita masing-masing, sekalipun di dunia ini ada banyak orang dengan nama yang sama. Ia memerhatikan kita. Ia tidak pernah keliru, apalagi melupakan kita. Di balik nama kita terdapat doa dan harapan dari mereka yang memberi nama. Kiranya kita dimampukan untuk mewujudkan doa dan harapan itu, hingga kelak kita dipanggil Tuhan dengan nama kita.
DOA:
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengenal, memerhatikan, dan mengingat nama kami. Tolong kami supaya setia kepada-Mu. Amin.
