Coba deh, pernah nggak kamu duduk diam sebentar di luar ruangan, lalu mendengarkan suara angin, melihat burung terbang, atau mengamati awan yang bergerak perlahan? Kadang, saat kita berhenti sejenak dari berbagai kesibukan dan mencoba membuka mata serta hati, ternyata alam juga bisa menjadi tempat belajar yang luar biasa. Kamu tahu nggak, bunga matahari selalu menoleh ke arah matahari. Saat pagi, ia menghadap timur. Saat sore, ia pelan-pelan berputar mengikuti cahaya. Bunga ini nggak mencari perhatian dan nggak bersuara. Namun, dari caranya hidup, ia mengajarkan satu hal penting: mengikuti terang, meskipun cuaca nggak selalu cerah.
Dalam Mazmur 19:2, Daud menulis bahwa langit dan cakrawala memberitakan kemuliaan Allah. Artinya, alam semesta ini bukan sekadar ciptaan TUHAN, tetapi juga pesan TUHAN yang hidup. Lewat langit yang luas, kita diingatkan betapa Allah itu sangat besar. Lewat matahari yang tidak pernah terlambat bersinar, kita tahu Allah nggak pernah lupa memberi apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya. Yesus pun sering memakai alam sebagai contoh dalam pengajaran-Nya. Ia bicara tentang biji sesawi, domba, angin, tanah, dan anggur. Manusia bisa belajar banyak dari hal-hal yang kelihatannya sederhana di alam, tetapi justru sangat bermakna.
Teens, alam adalah kitab yang Tuhan tulis dengan warna, bentuk, dan keindahan. Setiap daun yang gugur, setiap rintik hujan, bahkan semut kecil di tanah, semuanya bisa menjadi pengingat bahwa hidup ini bukan hanya terfokus pada diri kita, tetapi juga pada segala sesuatu yang telah Tuhan ciptakan. Perhatikanlah pelajaran-pelajaran kecil yang Tuhan letakkan di sekitar kita. Saat kita belajar peka terhadap alam, kita juga sedang belajar mengenal hati Tuhan dengan lebih dalam.
