Pernah nggak, kamu ikut kerja kelompok, tetapi anggota kelompoknya hanya diam saja? Lalu kamu pun diminta untuk memimpin kelompok sehingga kamu langsung panik. Ada orang yang mengira bahwa menjadi pemimpin itu harus orang yang paling pintar, paling cerewet, dan paling dominan. Padahal, nggak juga. Kadang justru kelompok itu membutuhkan orang yang paling tenang, paling mau mendengarkan, dan paling mau diajak bekerja sama. Pemimpin yang seperti itulah yang paling berdampak. Sebab, memimpin bukan berarti hanya memberikan perintah. Kamu pernah bermain game mobile online, nggak? Kalau pernah, di setiap tim tentu harus ada role yang diisi. Ada yang menjadi tank, ada yang menjadi support, dan ada yang menjadi leader dalam strategi. Namun, bagaimana jika semua hanya menunggu perintah dan tidak ada yang mengambil inisiatif? Tim itu pasti akan kalah.
Dalam Surat Paulus yang pertama kepada Timotius, yaitu 1 Timotius 4:12, Paulus berkata, “Jangan minder karena kamu muda.” Mengapa? Karena usia bukan penghalang untuk memberi dampak. Kuncinya adalah menjadi teladan. Teladan dalam apa? Dalam perkataanmu, tingkah lakumu, kasihmu, kesetiaanmu, dan kesucianmu. Itulah cara sederhana tetapi kuat untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari karakter, bukan dari jabatan.
Teens, dunia kita saat ini memerlukan pemimpin yang tulus, bukan hanya yang pintar berbicara. Kamu mungkin nggak sadar, tetapi cara kamu memperlakukan orang, cara kamu merespons masalah, dan cara kamu menjalani hidup sehari-hari bisa menjadi inspirasi yang baik bagi orang lain. Pada saat itulah kepemimpinanmu dimulai. Jadi, pemimpin sejati itu bukan soal umur, melainkan soal hati yang mau dibentuk dan dipakai oleh Tuhan.
