Suatu hari, Dino menyontek saat ujian karena takut dimarahi orangtuanya jika nilainya jelek. Namun, hatinya gelisan selama berhari-hari. Bahkan saat nilai ujiannya bagus pun, ia tidak bisa tenang. Sampai akhirnya, ia mengaku kepada gurunya. Akibatnya, ia dihukum menjelang ujian. Namun, justru sejak itu hatinya lega. Dan ternyata, guru dan orangtuanya lebih menghargai kejujuran dibandingkan nilai semata.
Kejujuran itu berharga di mata TUHAN. Amsal dengan tegas menyatakan, orang yang dusta adalah kekejian bagi TUHAN. Artinya, TUHAN sangat tidak suka kebohongan, sekecil apa pun. Sebaliknya, orang yang berlaku setia dan jujur, justru disenangi TUHAN. Kejujuran bukan hanya tentang tidak berbohong, melainkan juga hidup dalam integritas. Ketika kita memilih untuk jujur, kita sedang membangun karakter yang berkenan di hadapan-Nya. Integritas yang dijaga setiap hari akan menjadi kesaksian nyata tentang iman yang hidup.
Teens, saat kamu sedang bermain games dengan temanmu, tetapi kamu kalah karena dia curang, rasanya sebel banget, ‘kan? Atau kamu tahu temanmu menyontek, tetapi dia dapat nilai yang lebih tinggi darimu yang belajar dengan sungguh-sungguh. Bukankan itu rasanya nggak adil banget? Hidup dalam kejujuran memang bisa membuat kita kehilangan kesempatan untung menang, kehilangan pujian, atau bahkan dihukum. Namun, kejujuran membuat hati kita lega dan damai. Kebohongan mungkin bisa menyelamatkan kita, tetapi hanya sementara. Sedangkan kejujuran bisa menyelamatkan kita untuk selamanya. Kejujuran juga bisa melatih kita untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya. Lebih baik nilai biasa dengan kejujuran, daripada nilai tinggi dari hasil kebohongan dan kecurangan.
