Devina baru saja membeli sebuah barang secara online tanpa memeriksa terlebih dahulu keasliannya. Ia tergiur oleh harga yang ditawarkan, sehingga tanpa berpikir panjang langsung membelinya. Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya barang itu tiba di rumah. Namun, ternyata barang tersebut palsu. Devina sangat sedih dan kecewa. Ia sadar bahwa apa yang tampak asli dan menarik ternyata bisa menipu. Ia menyesal karena terburu-buru membelinya tanpa memeriksa lebih dahulu.
Dalam bacaan kita hari ini, Yohanes mengingatkan jemaat mula-mula agar tidak mudah percaya pada setiap ajaran atau pengkhotbah yang mengaku berbicara atas nama Tuhan. Umat memerlukan kepekaan dan ketelitian ekstra untuk menilai setiap ajaran yang ada, sehingga tidak mudah goyah dan terseret oleh ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Kepekaan dan ketelitian semakin diperlukan ketika ajaran itu terkait dan cocok dengan pengalaman kita sehari-hari. Sebab, kecocokan itu akan membuat kita cenderung lebih mudah percaya. Namun, kita tidak perlu takut. Roh Kudus menuntun kita untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak.
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi datang dari segala arah melalui media sosial atau grup percakapan. Semua orang bisa berbicara kapan saja tentang apa saja, termasuk hal-hal rohani. Namun, tidak semua yang terdengar rohani benar-benar berasal dari Tuhan. Itulah sebabnya kita harus tetap waspada, sambil terus berpegang pada kebenaran firman Tuhan.
- Apa maksud dari ayat:“Ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah”?
- Bagaimana kamu melatih kepekaan rohani agar tidak mudah tertipu oleh ajaran yang salah?
Pokok Doa: Senantiasa peka dan berpegang kuat pada kebenaran firman Tuhan.
