Tono dan Tini adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama 15 tahun. Mereka tidak pernah bertengkar besar dan semua tampak baik-baik saja. Rumah tangga mereka stabil, ekonomi cukup, dan anak-anak mereka sehat. Namun, diam-diam Tini, sang istri, merasa kesepian. Sebab Tono, sang suami, terlalu sibuk bekerja. Ia memang memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah dalam memberi nafkah untuk seluruh keluarga. Ia juga mengantar anak ke sekolah. Namun, tidak ada lagi obrolan hangat dan pelukan penuh kasih. Semuanya menjadi dingin. Pasangan suami istri ini akhirnya pergi ke konselor. Sambil menangis si istri berkata, “Aku tidak minta apa-apa. Aku hanya ingin dia mencintaiku seperti dulu.”
Dalam Wahyu 2:1-7, Yesus melalui Rasul Yohanes, memuji jemaat di Efesus karena kerja keras dan ketekunan mereka dalam melayani Tuhan serta ketegasan mereka menolak ajaran sesat. Namun, Yesus juga menegur mereka karena satu hal penting, yaitu mereka telah kehilangan kasih yang mula-mula kepada Tuhan. Mereka sibuk melayani, tetapi berhenti mengasihi. Karena itu, Yesus mengajak mereka untuk mengingat kembali bagaimana kasih itu bermula dan meminta mereka untuk segera bertobat. Ia rindu agar mereka tidak hanya melayani sebagai rutinitas, tetapi juga melayani dengan hati yang dipenuhi kasih. Dalam keadaan apa pun, kasih harus menjadi dasar pelayanan itu.
Youth, kesibukan dalam pelayanan sering kali membuat kita kehilangan makna dan tujuan awal kita mulai melayani, yaitu karena kasih kepada Tuhan dan sesama. Jangan pernah lupakan itu!
- Apa teguran Yesus terhadap jemaat di Efesus? Mengapa hal itu sangat penting?
- Jika hari ini Yesus bertanya kepadamu, ”Apakah kamu masih mengasihi Aku?” Apakah jawabmu?
Pokok Doa: Tidak kehilangan kasih kepada Tuhan dan sesama.
