Pernah nggak kamu mengalami masalah dengan teman? Mungkin karena salah paham, berbeda pendapat, atau bercanda yang kelewat batas. Alih-alih menyelesaikan masalah, kita lebih memilih untuk diem-dieman, menjauh, unfollow, block semua sosmed-nya, atau curhat kepada orang lain (bukan kepada orang yang bersangkutan). Masalah adalah bagian dari hidup. Namun, sayangnya tidak semua orang belajar bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan baik. Padahal, belajar menyelesaikan masalah merupakan bagian dari proses bertumbuh dan menjadi pribadi yang dewasa serta berhikmat.
Dalam Efesus 4:25, kita diajak untuk “membuang dusta” dan berkata benar seorang kepada yang lain karena kita saling terhubung. Artinya, jika ada masalah, kita perlu menyelesaikannya dengan kejujuran dan komunikasi yang sehat, bukan dengan drama atau sikap saling mendiamkan.
Menyelesaikan masalah membutuhkan beberapa hal penting, yaitu: keberanian untuk berkata jujur meskipun takut disalahpahami; kerendahan hati untuk mendengarkan, bukan hanya membela diri; serta kehendak untuk berdamai, bukan untuk menentukan siapa yang menang. Semua itu membutuhkan proses dan kerelaan, tetapi hasilnya akan mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera.
Teens, anak Tuhan yang baik adalah anak yang mau belajar untuk menyelesaikan masalah yang ada di depannya. Setiap kali kamu memilih untuk menghadapi masalah dengan kasih dan kejujuran, kamu sedang membangun karakter yang kuat dan hati yang dewasa. Jangan takut salah. Tidak perlu takut gagal. Jangan jadi toxic atau pendendam pada orang lain. Yang penting adalah keinginan untuk terus mau belajar. Miliki hati yang rendah hati. Tuhanlah yang akan menyertai dan menolong setiap prosesmu.
