Ditegur itu menyakitkan, apalagi jika kita merasa tidak salah atau jika teguran itu datang dari orang lain. Ketika hal itu terjadi, mungkin reaksi kita adalah menolak, tersinggung, atau bahkan marah. Namun, faktanya, teguran dapat menjadi pelajaran yang berharga jika kita mau sungguh-sungguh membuka hati.
Teguran merupakan bagian dari didikan kasih. Salomo, dalam Amsal 12:1b, mengatakan dengan sangat jelas dan tegas bahwa “siapa yang membenci teguran, ia dungu.” Mengapa? Karena orang yang menolak teguran menutup dirinya dari kemungkinan untuk bertumbuh dan berbuah. Tuhan pun menggunakan teguran untuk membentuk karakter kita. Bahkan, Ibrani 12:6 berkata, “… Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia mencambuk orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Artinya, Tuhan menegur orang yang Ia kasihi. Caranya mungkin berbeda-beda. Ada yang ditegur oleh guru, orangtua, bahkan teman. Belajar dari teguran berarti belajar rendah hati. Mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan. Saat menerima teguran, kita juga belajar mendengarkan dengan hati terbuka. Tidak semua teguran disampaikan dengan cara yang manis dan kata-kata yang indah. Namun, kita tetap dapat menangkap maksud baik di baliknya. Dari teguran, kita belajar mengubah sikap. Teguran yang diterima tetapi tidak mengubah apa pun adalah sia-sia.
Teens, jika kamu ingin menjadi pribadi yang bertumbuh, jangan takut atau marah saat ditegur. Belajarlah membuka diri. Tidak semua orang siap dengan teguran. Jadikan teguran sebagai batu loncatan untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Ingatlah, setiap orang yang berani menegurmu, apalagi dengan kasih, adalah orang yang sangat peduli kepadamu.
