Mengampuni itu mudah, nggak sih? Kalau seandainya yang menyakitimu adalah sahabatmu, orang yang paling kamu percaya, apakah kamu bisa dengan mudah mengampuninya? Mungkin sulit banget untuk berkata dari hati, “Aku sudah maafin kamu.” Namun, justru karena sulit itulah, kita perlu belajar. Sulit untuk mengampuni itu seperti kamu membawa ransel yang sangat berat. Isinya bukan buku, melainkan batu. Setiap kali kamu tidak mau mengampuni orang lain, kamu sedang memasukkan satu batu ke dalam tas. Awalnya memang masih bisa dibawa. Namun, lama-kelamaan kamu lelah sendiri, punggungmu sakit, bahkan tidak lagi bisa berjalan. Begitu juga dengan hati yang terus-menerus menyimpan dendam. Hal itu justru memberatkanmu, bukan meringankan, apalagi menyembuhkan.
Rasul Paulus, dalam Kolose 3, mengingatkan kita untuk sabar dan saling mengampuni. Mengapa? Karena “sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu.” Artinya, pengampunan itu bukan karena orang lain pantas untuk diampuni, melainkan karena kita sendiri adalah orang berdosa yang sudah lebih dahulu diampuni oleh Tuhan. Jadi, mengampuni bukan berarti melupakan kesalahan, membiarkan orang berbuat seenaknya, atau melanjutkan hidup seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mengampuni berarti melepaskan beban sakit hati, memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja, serta menjaga hati kita tetap bersih dan damai.
Teens, Yesus sendiri mengampuni saat Ia disalib. Kata-Nya kepada Bapa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Padahal, yang disalib itu adalah diri-Nya sendiri. Jika Yesus dapat mengampuni dalam keadaan seberat itu, kita sebagai pengikut-Nya pun dipanggil untuk belajar dari-Nya. Mengampuni memang tidak mudah, tetapi itu adalah bagian dari kedewasaan iman.
