Seorang anak merengek meminta izin untuk naik komidi putar ketiga kalinya di sebuah pasar malam. Ibunya melarang dengan tegas, “Sudah cukup dua kali saja. Kalau kamu naik lagi, kamu akan pusing, bahkan bisa muntah,” nasihat sang ibu. Namun, anak itu begitu ingin mengulanginya hingga ibunya akhirnya menyerah dan membiarkan anaknya kembali naik komidi putar. Baru setengah putaran berjalan, anak tersebut terjatuh karena pusing, lalu muntah-muntah. Andai anak itu tahu kapan harus berhenti, ia tentu tidak akan jatuh dan sakit.
Ayub dimintai pertanggungjawaban oleh TUHAN atas semua perkataannya yang penuh kemarahan dan penghakiman. Ia kemudian menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya. Karena itu, dengan penuh penyesalan, ia menjawab TUHAN Allah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ayub bertekad untuk tidak melanjutkan kesalahan yang pernah ia lakukan.
Sahabat Senior, kita pun kerap mengalami kesulitan untuk berhenti dari kebiasaan buruk, seperti berpikir negatif, berkata kasar, dan berperilaku tidak benar. Beberapa orang bahkan mengalami kesulitan untuk sekadar mengakui bahwa dirinya telah berbuat salah. Hari ini kita belajar dari Ayub yang rendah hati. Ia mengakui kesalahannya dengan jujur dan bertekad untuk menghentikan perbuatan salah tersebut.
DOA:
Bapa, tolonglah agar kami dapat menyadari kesalahan dan dosa yang kami perbuat. Roh Kudus mampukan kami untuk hidup dalam pertobatan. Amin.
