Ibu Teresa dikenal luas karena pelayanannya bagi mereka yang paling miskin dan terpinggirkan di Kalkuta, India. Hidupnya dipakai untuk melayani orang-orang yang terabaikan dan menderita. Atas pengabdiannya, ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1979. Namun, semua penghargaan itu tidak membuatnya tinggi hati. Ia berkata, “Saya bagaikan sebatang pensil kecil di tangan Allah. Dialah sesungguhnya Sang Penulis itu. Pensil tidak dapat melakukan apa-apa tanpa penulis.”
Musa merasa kewalahan memikul tanggung jawab besar seorang diri. Karena itu, TUHAN memerintahkannya untuk mengumpulkan tujuh puluh orang tua-tua Israel dan memberikan sebagian Roh yang ada pada Musa kepada mereka, supaya mereka turut membantu memimpin umat. Dua orang di antara mereka, yaitu Eldad dan Medad, bernubuat meskipun tidak hadir bersama kelompok itu. Yosua yang masih muda dan setia kepada Musa, merasa terganggu oleh peristiwa tersebut. Namun, Musa sama sekali tidak merasa terancam. Ia justru bersukacita melihat semakin banyak orang dipenuhi oleh Roh Tuhan.
Sahabat Senior, betapa beruntungnya kita jika boleh menjadi “sebatang pensil kecil” di tangan Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk memegahkan diri ataupun memandang orang lain sebagai saingan dalam pelayanan dan kehidupan.
DOA:
Tuhan, kami mau menjadi sebatang pensil kecil di tangan-Mu, agar kami dapat dipakai untuk menuliskan surat cinta Allah kepada dunia. Amin.
