Ada orang yang terbiasa menggunakan kata-kata menyakitkan untuk menunjukkan dirinya lebih hebat dari orang lain. Hal ini disebut sebagai superiority complex, dan dapat menjangkiti siapa saja seperti halnya penyakit menular. Mereka dapat melakukan hal yang merusak, seperti menyebarkan gosip buruk, mengejek, atau merendahkan orang lain di depan umum. Dengan merendahkan orang lain dan membuat mereka tampak lebih buruk, pribadi dengan superiority complex ini merasa dirinya menjadi lebih baik. Menyebalkan sekali ya, apabila kamu menjadi target mereka.
Teens, cemoohan yang disampaikan kepada Tuhan Yesus saat di atas salib menggambarkan superiority complex imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua Yahudi. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa Tuhan Yesus itu lemah dan tidak berdaya. Namun, lihatlah respons Tuhan Yesus. Ia memilih diam dan tidak membalas. Apakah ini berarti diri-Nya memang lemah? Tidak, justru Dia tidak perlu menjawab dan membalas cemoohan orang-orang ini. Ia tidak terpancing emosi dan tidak membalas dengan perkataan-perkataan kasar. Dengan cara ini, justru tampak karakter Kristus yang menjadi teladan bagi orang percaya, yaitu tenang dan bertahan meski dihantam badai cemoohan.
Teens, tidak mudah memang menghadapi orang-orang dengan superiority complex. Tindakan mereka yang merendahkan dirimu memang menyakitkan. Tapi ingatlah, semakin mereka mengolok-olok dirimu, semakin nyata bahwa mereka sebenarnya menyadari dirimu jauh lebih baik dari mereka. Mereka membutuhkan jembatan untuk tampak lebih hebat. Jadi, hadapilah dengan tenang, bertahan untuk tidak membalas perbuatan jahat dengan cara yang sama. Pilihanmu untuk tenang dan diam, seperti teladan Kristus, membuatmu memiliki hidup yang berkualitas dan penuh sukacita. Tetaplah bertahan!
