Pernahkah kamu merasa sangat yakin bisa melakukan sesuatu, lalu ternyata gagal? Misalnya, kamu berkata dengan percaya diri bahwa kamu pasti mendapat nilai tinggi karena merasa sudah paham materi. Namun saat ujian tiba, ternyata soal-soalnya lebih sulit dari yang dibayangkan. Atau ketika kamu berkata kepada teman, “Aku nggak mungkin melakukan hal itu,” tetapi dalam tekanan situasi, kamu justru melakukannya. Rasa yakin memang penting, tetapi jika terlalu yakin dan tidak waspada, kita bisa lengah. Keyakinan yang berlebihan sering kali membuat kita menyepelekan kemungkinan gagal.
Dalam Matius 26:34, Yesus berkata kepada Petrus, “…Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: malam ini sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Sebagai murid Yesus, Petrus begitu yakin bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan-Nya. Ia merasa imannya kuat. Ia merasa yakin tidak akan melakukan hal yang buruk kepada Yesus. Namun, ketika situasi menjadi menegangkan dan penuh ancaman, Petrus justru menyangkal Yesus tiga kali. Kepercayaan diri Petrus berubah menjadi kejatuhan karena ia tidak menyadari kelemahannya sendiri.
Teens, dari kisah ini kita belajar bahwa merasa kuat bukan berarti kita kebal terhadap godaan atau tekanan. Justru saat kita merasa paling kuat, di situlah kita perlu paling waspada. Karena itu, sebelum berkata, “Aku pasti tidak akan jatuh,” belajarlah mempertimbangkan segala sesuatu dengan rendah hati. Sadari bahwa kita tetap manusia yang bisa salah. Mintalah pertolongan Tuhan dan berjaga-jagalah dalam setiap keputusan. Lebih baik rendah hati dan waspada daripada terlalu percaya diri lalu menyesal di kemudian hari. Kerendahan hati dan kewaspadaan akan menolong kita tetap teguh ketika ujian datang.
