Seorang nenek setiap pagi memegang daftar nama anggota keluarganya. Ternyata, ia sedang menyebut nama-nama tersebut satu per satu di dalam doa. Sang cucu bertanya mengapa nenek tidak pernah bosan berdoa. Nenek menjawab, “Doa nenek mungkin tidak terlihat. Seperti akar pohon yang tersembunyi, itulah yang membuat kalian berdiri tegak di tengah badai kehidupan.”
Setelah Yesus naik ke surga, para murid tidak langsung pergi memberitakan Injil ke seluruh dunia. Yang mereka lakukan adalah menunggu dan berdoa bersama-sama. Mereka tidak hanya diam atau putus asa karena kehilangan Sang Guru. Sebaliknya, mereka menantikan janji Roh Kudus dengan hati yang penuh iman, saling menguatkan, dan hidup dalam kesatuan. Menariknya, di antara mereka terdapat Maria, ibu Yesus, seorang sosok lanjut usia yang tetap setia dalam persekutuan. Hal ini menunjukkan bahwa usia tidak menjadi batas bagi siapa pun untuk terlibat dalam karya Allah.
Sahabat Senior, banyak orang beranggapan bahwa masa lanjut usia adalah masa “penantian”. Namun, seperti yang dialami para murid, masa “penantian” bukanlah masa yang sia-sia. Sebaliknya, inilah masa emas untuk memperkuat iman, memperdalam kehidupan doa, serta menjadi saluran berkat bagi keluarga dan gereja. Mari tetap menghidupi iman kita di masa “penantian” ini!
DOA:
Ya Tuhan, bimbinglah kami agar di dalam masa “penantian” ini kami tetap setia berdoa dan menjadi saluran berkat bagi siapapun. Amin.
