Dalam dunia pelayaran, kapal yang kelebihan muatan atau terlalu berat sangat rentan terbalik atau tenggelam saat badai. Para pelaut profesional sering menurunkan atau melempar sebagian muatan ke laut untuk meringankan kapal, meningkatkan stabilitas, dan menjaga kapal tetap mengapung. Trik ini disebut “jettisoning cargo” dan masih digunakan bahkan di kapal modern saat menghadapi cuaca ekstrem.
Tindakan ini persis seperti yang dilakukan awak kapal Paulus dalam Kisah Para Rasul 27:13-38. Mereka membuang alat-alat kapal yang berharga demi keselamatan nyawa. Setelah meninggalkan pelabuhan di Kreta, kapal Paulus dihantam angin taufan dahsyat yang disebut Euroklion. Kapal tidak mampu menghadapi badai, sehingga awak kapal menyerahkannya pada arus dan dibiarkan hanyut. Kapal itu dihantam gelombang besar dan nyaris hancur. Dalam kondisi terombang-ambing dan nyaris tak terkendali, mereka memutuskan untuk membuang perahu dan berbagai muatan penting ke laut untuk meringankan kapal. Paulus dan awak kapal percaya bahwa dengan melepaskan beban, mereka memberi ruang bagi keselamatan orang-orang yang berada di kapal itu.
Youth, mungkin ada hal-hal yang kita anggap berharga dalam hidup—harta, kenyamanan, status, atau hubungan—yang terkadang harus kita lepas untuk mendapatkan hal yang lebih bernilai: kedamaian, keselamatan, pertumbuhan, atau berkat Tuhan. Apakah ada “barang berharga” dalam hidupmu yang menahanmu dari rencana Tuhan? Percayalah, ketika kita melepaskan dengan iman, Allah menyediakan jalan menuju kebaikan yang lebih besar.
- Apa yang menjadi alasan bagi para awak kapal untuk membuang muatan?
- Hal ”berharga” apa yang perlu kamu buang demi memperoleh berkat Tuhan?
Pokok Doa: Berani membuang hal-hal yang menghalangi keselamatan.
