Proses pemurnian perak membutuhkan waktu yang tidak singkat. Perak harus dibakar pada suhu yang sangat tinggi. Pada saat itulah seluruh kotoran dan logam lain akan terbakar, menguap, atau mengapung di permukaan. Bagian yang mengapung tersebut kemudian dibuang. Pengrajin akan dengan penuh kesabaran menanti hingga ia dapat melihat bayangan wajahnya sendiri pada permukaan perak yang cair. Saat itulah perak telah menjadi murni dan berkilau laksana cermin.
Mazmur 66 mengungkapkan keyakinan pemazmur bahwa penderitaan yang dialami serupa dengan proses pemurnian perak. Perak dimurnikan melalui berbagai tahap pemanasan hingga akhirnya diperoleh perak murni yang berkualitas. Demikian pula pemazmur percaya bahwa di tengah penderitaan, Allah tidak pernah meninggalkannya. Penderitaan justru dapat menjadi sarana pemurnian iman. Ketika seseorang berhasil melewati penderitaan, iman kepada TUHAN akan menjadi semakin teguh dan dewasa.
Sahabat Senior, ketika menghadapi penderitaan, apa yang muncul dalam pikiran kita? Apakah kita marah atau kecewa kepada Tuhan? Apakah kita merasa Tuhan tidak adil? Ada baiknya kita belajar menempatkan diri seperti perak yang sedang dimurnikan. Dengan demikian, iman kita kepada Tuhan dapat semakin diteguhkan melalui setiap proses yang kita jalani.
DOA:
Tuhan, murnikanlah iman kami seperti perak agar kami semakin berkenan kepada-Mu. Amin.
