Ada pepatah Jawa yang mengatakan, “Saiki jaman edan, yen ora edan ora keduman.” Pepatah ini menggambarkan suatu masa yang kacau dan mengalami kemerosotan moral, ketika banyak orang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Jika seseorang tidak ikut “edan”, yakni tidak bersikap curang atau melanggar nilai-nilai moral, ia dianggap tidak akan memperoleh keuntungan dalam hidup. Benarkah demikian?
Nuh hidup pada zaman yang serupa. Alkitab mencatat bahwa kecenderungan hati manusia pada masa itu senantiasa membuahkan kejahatan. Di hadapan Allah, manusia dan bumi telah rusak. Karena itu, Allah bermaksud mengakhiri hidup segala makhluk di bumi, termasuk manusia. Namun, Nuh mendapat kemurahan TUHAN. Kata “kemurahan” sering kali berkaitan dengan kebaikan TUHAN yang dianugerahkan kepada manusia, meskipun manusia tidak layak menerimanya. Dengan demikian, Nuh menerima kemurahan TUHAN bukan karena ia sempurna, melainkan semata-mata karena kasih karunia Allah.
Sahabat Senior, kita pun hidup pada zaman yang mungkin tidak jauh berbeda dengan zaman Nuh. Banyak orang tidak lagi merasa malu berbuat jahat dan bahkan tega mencelakakan sesamanya. Di tengah kondisi seperti ini, betapa kita sungguh membutuhkan kemurahan Tuhan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
DOA:
Ya Tuhan, dalam keadaan apa pun, kami mau tetap setia kepada-Mu, sebab kami hidup semata-mata bergantung pada kemurahan-Mu. Amin.
