Dalam menjalani kehidupan, manusia cenderung menghitung peluang dan menimbang situasi. Dalam teori probabilitas, segala sesuatu diukur berdasarkan kemungkinan. Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai rumus matematika. Ada momen ketika peluang tampak sangat kecil, bahkan hampir nol. Secara logika, keberhasilan tidak mungkin terjadi dalam situasi ini. Saat itulah iman berbicara.
Perikop yang kita baca merupakan bagian awal pidato pembelaan Stefanus di hadapan Mahkamah Agama Yahudi. Stefanus menjawab pertanyaan Imam Besar dengan menelusuri sejarah iman leluhur Israel, dimulai dari Abraham. Kita pun diingatkan akan paradoks dalam perjalanan kehidupan Abraham. Di saat Abraham belum mempunyai anak, Allah menjanjikan keturunan dan tanah pusaka. Dalam logika manusia, ini adalah hal yang mustahil. Namun, paradoks ini mengajarkan bahwa rencana Allah tidak bergantung pada kemampuan dan perhitungan manusia, melainkan pada kesetiaan Allah sendiri. Meskipun tampak mustahil, tetapi Abraham mengimani bahwa janji Allah akan selalu digenapi.
Youth, mungkin kamu sedang bergumul tentang pendidikan, pekerjaan, atau masa depan yang tampak belum jelas. Jangan biarkan ketidakpastian mematikan imanmu. Tuhan memiliki rancangan yang baik bagimu. Tetaplah berani bermimpi, tekun mempersiapkan diri, dan percaya bahwa di balik situasi yang tampak mustahil, Allah sedang menyiapkan penggenapan rencana-Nya dalam hidupmu. Iman tidak meniadakan akal, tetapi melampauinya. Ketika perhitungan manusia berkata “tidak mungkin”, iman berkata, “Tuhan sanggup.”
- Paradoks apa yang terjadi dalam perjalanan hidup Abraham?
- Pernahkah kamu mengalami paradoks antara logika dan iman?
Pokok Doa: Tetap beriman dan berjalan bersama Tuhan dalam ketidakpastian.
