Seorang pekerja magang di sebuah kantor menghadapi sebuah dilema. Atasannya memintanya untuk merekayasa laporan keuangan. Jika menolak, ia berisiko kehilangan pekerjaan. Namun, ia menyadari bahwa ketaatan kepada manusia tidak boleh mengalahkan ketaatannya kepada Tuhan. Di dunia kerja, bahkan di lingkungan kampus, kita sering dihadapkan pada otoritas manusia, seperti dosen, atasan, pemerintah, maupun peraturan organisasi. Tidak semua otoritas bersikap adil atau benar. Namun, sebagai anak Tuhan, kita diajar untuk tetap menghormati mereka. Ketaatan tersebut bukanlah ketaatan tanpa batas.
Rasul Petrus mengingatkan bahwa ketaatan dilakukan “karena Tuhan” dan harus tetap dilandasi oleh rasa takut akan Allah. Petrus sebenarnya hendak menyindir sekaligus melawan pemerintahan Romawi yang kerap bertindak tidak adil dan menindas. Perlawanan itu justru ditunjukkan melalui sikap tunduk kepada otoritas, bukan karena takut kepada penguasa, melainkan karena ketaatan kepada Tuhan. Hal ini bukanlah sebuah gerakan pemberontakan, melainkan panggilan untuk hidup berbeda, yaitu hidup dengan hormat, tertib, dan bermartabat.
Youth, kita harus mendasari iman dengan pemahaman bahwa ketaatan dibentuk bukan karena paksaan, melainkan karena kasih. Kita perlu mengingat bahwa kita adalah orang-orang merdeka, yakni mereka yang tidak lagi diperbudak oleh dosa. Oleh karena itu, sudah selayaknya cara hidup sebagai orang merdeka menjiwai setiap ketaatan yang kita lakukan.
- Mengapa Rasul Petrus mengingatkan untuk menghormati semua orang?
- Apakah kamu memiliki pengalaman harus tunduk kepada orang jahat?
Pokok Doa: Terus menghidupi ketaatan dan kasih dalam Tuhan.
