Seorang penjaga keamanan malam sering kali tidak diperhatikan. Saat orang lain tidur, ia berjaga. Tidak ada yang memujinya. Namun, ia tetap bekerja dengan setia, menjaga dan memastikan semuanya aman.
Demikian pula dengan hamba-hamba TUHAN dalam Mazmur 134 yang berdiri di rumah TUHAN pada malam hari. Mereka melayani tanpa sorotan dan tepuk tangan, tetapi tetap memuji TUHAN dengan setia. Inilah gambaran kesetiaan dalam keheningan, sebuah pengabdian yang murni, bukan karena dilihat orang, melainkan karena hati yang mengasihi TUHAN. Mazmur ini merupakan nyanyian ziarah (shir hama’alot) yang dinyanyikan umat Israel ketika mereka naik ke Yerusalem untuk beribadah. Mazmur ini sangat singkat, tetapi sarat makna. Isinya menggambarkan interaksi antara para imam yang berjaga di Bait Suci pada malam hari dan umat yang mendukung mereka untuk terus memuji TUHAN. Pada ayat ketiga, arah komunikasi berbalik: para imam memberkati umat sebagai balasan. Ada pesan yang kuat bahwa TUHAN memberkati kesetiaan yang dijalani dalam ketersembunyian.
Youth, kesetiaan kepada Tuhan dapat dijalani dalam keheningan, tanpa gegap gempita, gemuruh, atau sorak-sorai. Pelayanan kepada Tuhan tidak selalu dilakukan dalam hal-hal yang terlihat. Mazmur ini memberi pesan bahwa dalam keheningan karya Tuhan tampak semakin jelas dibandingkan karya manusia. Kesetiaan dalam doa menjadi pintu untuk mengalami berkat Tuhan, yang meskipun tersembunyi atau tidak terlihat, tetapi senantiasa tersedia.
- Mengapa pemazmur memakai gambaran penjaga di waktu malam?
- Pernahkah kamu melayani Tuhan dalam keheningan?
Pokok Doa: Tetap setia meskipun tampak tersembunyi.
