Ada seorang anak kecil yang dibesarkan di lingkungan yang keras. Ia hidup berpindah- pindah tempat tinggal, mengalami perlakuan yang tidak layak, bahkan merasa tidak dicintai dan tidak memiliki masa depan. Suatu hari, sebuah keluarga mengadopsinya. Mereka tidak hanya memberinya tempat tinggal, tetapi juga kasih, pendidikan, dan identitas baru. Anak itu tidak perlu lagi mencari makanan sendiri atau tidur di tempat yang tidak aman. Meskipun kini hidup dalam keadaan aman, anak tersebut tidak hidup sesuka hatinya. Ia belajar bangun pagi, membantu pekerjaan rumah, dan belajar dengan giat. Semua itu dilakukan bukan karena takut dihukum jika gagal, melainkan karena ia mengasihi keluarga yang telah menyelamatkannya. Sikap dan tindakannya berubah bukan semata-mata karena peraturan, melainkan karena kesadaran akan kasih dan harga yang telah dibayar baginya.
Rasul Petrus mendorong orang percaya untuk hidup dengan rasa hormat dan takut kepada Allah. Rasa takut ini bukanlah ketakutan akan hukuman, melainkan sikap hormat yang lahir dari kesadaran akan besarnya kasih dan kekudusan Allah. Petrus mengingatkan bahwa kita telah ditebus bukan dengan hal-hal fana seperti emas atau perak, melainkan dengan darah Kristus yang mahal. Karena itu, hal ini seharusnya menjadi pendorong bagi umat untuk hidup berbeda dari dunia: hidup yang suci, jujur, penuh kasih, dan tulus, sebab kita telah dilahirkan kembali oleh firman yang hidup.
Youth, banyak anak muda saat ini hidup dalam budaya yang menjunjung tinggi kebebasan tanpa batas. Jadilah orang muda dengan hidup suci, jujur, penuh kasih, dan tulus.
- Apa yang dimaksud dengan hidup dalam ketakutan dalam bacaan kita?
- Bagaimana caramu menunjukkan hormat dan takutmu kepada Tuhan?
Pokok Doa: Menunjukkan rasa takut dan hormat kepada Tuhan dalam perilaku.
