Seorang siswa ketahuan mengambil bekal makanan teman sekelasnya. Ia kemudian dipermalukan di depan kelas. Namun, ada seorang teman yang secara spontan mengganti bekal itu dengan memberikan bekalnya kepada teman yang kehilangan. Ia merangkul anak yang mencuri itu dan bertanya, “Mengapa kamu mencuri?” Anak itu menjawab, “Saya belum makan sejak kemarin, saya sangat lapar.” Mendengar hal itu, ia pun mengajak temannya ke kantin untuk membelikannya makanan.
Ketika ada orang yang berbuat salah, Tuhan mengajarkan kita untuk tidak serta-merta mempermalukannya. Ada cara dan proses yang perlu ditempuh. Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika tidak berhasil, bawa seorang atau dua orang lagi. Jika masih tidak berhasil, barulah dibawa kepada jemaat. Tahapan ini menunjukkan bahwa sebesar apa pun kesalahan seseorang, kita tidak diperkenankan membuka aibnya di depan umum. Tanggung jawab kita adalah menegur dengan kasih, agar melalui teguran itu ia bertobat. Kasih tidak mempermalukan siapa pun yang bersalah. Kasih itu merangkul dan mengampuni.
Teens, kita hidup di era media sosial. Kita dengan mudah melihat kesalahan orang lain dibuka di medsos atau diceritakan kepada banyak orang. Kita tidak perlu meniru hal seperti itu, apalagi menggunakan medsos untuk mengumbar kesalahan orang lain. Tuhan sudah mengajarkan kepada kita cara yang tepat untuk menegur orang yang bersalah. Tujuan utama dari menegur adalah membuat seseorang bertobat, bukan mempermalukannya. Kita pun tidak kebal terhadap kesalahan. Suatu saat, bisa saja kita yang berbuat salah. Tentu kita tidak ingin dipermalukan di depan umum. Karena itu, jika ada teman yang berbuat salah, ajaklah ia berbicara baik-baik. Siapa tahu, ia bertobat karena kebaikanmu.
