Hendra adalah seorang pemuda yang baru beberapa tahun menjadi pengikut Kristus. Ia masih sering gelisah saat mengikuti ibadah. Setiap kali masuk gereja, ia merasa terbelenggu oleh rasa bersalah, seolah pandangan dari agama yang sebelumnya ia anut terus membayanginya. Bahkan, bayangan itu seperti semakin kuat menggemakan hukuman setiap kali ia melangkahkan kaki ke rumah ibadah. Pergumulan semacam ini tentu tidak mudah bagi batin dan pikirannya. Dibutuhkan waktu, keberanian, dan keteguhan hati untuk melewati proses tersebut.
Penulis Surat Ibrani mengingatkan orang percaya bahwa kita dapat menghampiri Allah dengan keyakinan yang teguh. Kita tidak perlu lagi merasa takut, tidak layak, tidak dikasihi, apalagi terus dihantui rasa bersalah. Kita dapat datang kepada Allah dengan bebas, tanpa hati nurani yang menuduh, sebab pengampunan telah kita terima. Ketika kita mendekat kepada-Nya, kita menemukan pengharapan yang besar di dalam Yesus. Melalui persekutuan, kita memperoleh dukungan dari sesama orang percaya. Dengan berjalan bersama umat Tuhan dalam ibadah, kita menemukan dorongan dan kekuatan untuk bertumbuh.
Youth, ketika dalam hati mulai muncul rasa enggan untuk beribadah—entah karena kecewa terhadap kehidupan gereja, kesibukan, atau alasan lainnya—ingatlah bahwa ibadah, dengan segala dinamika dan keterbatasannya, menumbuhkan pengharapan yang teguh dan menuntun kita menyelami misteri karya Allah dalam hidup ini. Jangan ragu bersekutu dengan-Nya. Darah-Nya telah melayakkan kita.
- Siapakah yang disebut Imam Agung dalam Surat Ibrani?
- Apakah persekutuan atau ibadah memiliki dampak dalam kehidupan spiritual?
Pokok Doa: Setia merawat kehidupan beribadah.
