Salah satu olahraga yang sedang naik daun dan menjadi tren di berbagai kota adalah lari maraton. Banyak orang mengikuti event olahraga ini. Dengan jargon fun run, setiap peserta diajak berlari menempuh jarak yang cukup jauh, rata-rata 10 km. Fun run memang tidak dirancang seperti lari maraton sesungguhnya dengan jarak tempuh 41 km. Namun, kegiatan ini setidaknya memberi kesan dan pengalaman berbeda bagi setiap peserta. Yang jelas, para peserta tidak berfokus untuk berkompetisi agar lebih cepat mencapai garis finis dan menjadi juara. Mereka diajak menikmati proses panjang bersama-sama. Dalam proses itulah orang belajar memiliki daya tahan, strategi, serta tekad untuk menyelesaikan perjalanan hingga mencapai garis akhir.
Penulis Surat Ibrani agaknya cukup visioner. Para pembaca sebenarnya mengharapkan lomba lari jarak pendek, bukan maraton yang melelahkan. Namun, penulis Surat Ibrani meyakini bahwa analogi lari maraton lebih tepat untuk menggambarkan kehidupan Kristen. Dengan memahami hidup sebagai “lomba maraton rohani”, kita diajak berusaha sekuat tenaga dan tetap fokus pada tujuan, yaitu Kristus, sambil berani menanggung kesukaran serta melawan berbagai godaan.
Youth, orang yang sedang berlomba mengarahkan pandangan ke depan dan memiliki keberanian melalui proses panjang yang mungkin melelahkan. Demikian pula dalam kehidupan beriman: kita harus mengarahkan hidup kepada Yesus dan berani menghadapi beragam tantangan dalam perjalanan iman.
- Mengapa penulis Surat Ibrani menggunakan analogi perlombaan lari?
- Godaan atau halangan apakah yang membuatmu sering jatuh dalam dosa?
Pokok Doa: Tekun dan bertahan dalam segala keadaan.
